Powered By Blogger

Sabtu, 21 Agustus 2010

Kenali Isyarat Wajah Bayi

Jumat, 20/08/2010 10:30 WIB

Kenali Isyarat Wajah Bayi

Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Bayi biasanya akan melakukan komunikasi dengan menggunakan anggota tubuh dan juga mimik wajah, tapi terkadang orangtua tidak menyadari hal tersebut. Karena itu kenali bahasa isyarat dari wajah bayi.

Salah satu hal yang membuat orangtua merasa frustasi adalah merasa tidak dapat mengenali keinginan dan kebutuhan sang bayi, seperti apakah ia merasa lapar, suasana tidak nyaman atau merasa sakit.

"Bayi bisa melakukan komunikasi jauh sebelum ia bisa mengucapkan kata-kata pertamanya," ujar Linda Acredolo, PhD, profesor psikologi di University of California, seperti dikutip dari Parenting, Jumat (20/8/2010).

Selain itu bayi sebenarnya sudah terlahir dengan memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi, termasuk emosi stres atau bahaya dan emosi senang atau kepuasan. Ketika orangtua bisa menanggapai dengan cepat isyarat yang diberikan oleh si bayi, maka bayi akan merasa aman dan ikatan yang terjalin antara orangtua dan bayi akan semakin kuat.

Tapi tidak mudah untuk memahami isyarat yang diberikan oleh si bayi, karena tidak semua bayi memberikan sinyal yang sama persis dan kadang membutuhkan waktu berbulan-bulan sebelum akhirnya benar-benar memahami bahasa bayinya. Salah satu isyarat yang diberikan oleh bayi adalah melalui wajahnya.

"Ekspresi wajah lebih halus dibandingkan dengan menangis, misalnya hanya sedikit mengerut atau hanya dahinya saja yang berkerut. Tapi orangtua tetap bisa memahami isyarat wajah ini," ujar David Hill, MD, asisten profesor pediatri dari University of North Carolina Medical School.

Untuk itu tak ada salahnya untuk memahami isyarat yang diberikan si bayi melalui wajah mungilnya, yaitu:

Tatapan menolak
Bayi terkadang memerlukan istirahat dari aktivitas kontak mata sehingga memalingkan mukanya. Sekitar usia dua bulan, bayi terkadang memutar kepalanya ke samping, bermain dengan jari tangan dan kakinya atau bahkan menangis. Hal ini biasanya dilakukan untuk memutuskan kontak dengan orang dewasa.

Orangtua terkadang terus berbicara dengan bayinya atau mencoba bergerak mengikuti mata sang bayi untuk bisa mendapatkan perhatian bayinya kembali. Tapi bayi juga membutuhkan waktu untuk beristirahat. Karenanya orangtua bisa menunggu dengan tenang sampai bayi kembali melihat wajah orangtua dan tersenyum kembali.

Tersenyum
Bayi akan senyum untuk pertama kalinya pada usia 6-8 minggu. Pada usia dini, senyum bayi cenderung memberikan arti adanya kepuasaan secara fisik, misalnya saat mendapatkan handuk hangat setelah mandi atau berada di sekitar orang-orang yang memang menyanyanginya.

Usahakan orangtua tetap mendorong bayi dengan bereaksi secara positif agar bayi tetap bisa tertawa dan tersenyum kembali. Selain itu takada salahnya untuk memberikan pujian atau kata-kata positif ketika bayi tersenyum. Karena meskipun bayi tidak memahami kata-kata tersebut, setidaknya ia tetap mendapatkan pesan.

Peniru wajah
Pada usia 3-4 bulan, kebanyakan bayi akan belajar untuk meniru ekspresi wajah seperti takut, ekspresif dan sedih. Kemudian saat usia sembilan bulan, jika ia melihat orang asing maka ia akan melihat wajah ibunya dan melihat ekspresi sang ibu. Jika ibunya tertawa maka iapun akan tertawa, tapi jika ibunya menunjukkan ekspresi tertekan maka ia akan menangis dan menempel dengan sang ibu.

Untuk itu jika orangtua merasa stres atau tertekan, sebaiknya tidak menunjukkan wajah tersebut di depan sang bayi. Karena bayi biasanya akan jauh merasa stres dibandingkan dengan ibunya. Usahakan untuk tersenyum atau memberikan sentuhan-sentuhan halus bagi sang bayi agar ia tetap merasa tenang.

Selasa, 17 Agustus 2010

Anak Emosinya Stabil Jika Punya Kenangan Baik dengan Ayah

Senin, 16/08/2010 09:27 WIB

Anak Emosinya Stabil Jika Punya Kenangan Baik dengan Ayah

Irna Gustia - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Ayah sering digambarkan sebagai sosok yang kaku, kurang bisa berkomunikasi dengan anak, otoriter dan tidak suka dibantah. Jarang sekali anak yang memiliki hubungan yang baik dengan si ayah ketika kecil.

Kesibukan ayah sebagai pencari nafkah kerap membuat anak jarang bertemu bapaknya kecuali hari libur. Belum lagi jika pulang kerja ayah lebih sering menampilkan wajah capek dan cemberut yang membuat anak-anak takut mendekat.

Para pakar psikologi menemukan hubungan ayah dan anak juga bisa mempengaruhi emosi anak saat dewasa. Selama ini penelitian lebih banyak fokus pada hubungan ibu dan anak.

Psikolog dari California State University-Fullerton, Profesor Melanie Mallers menemukan anak-anak yang punya hubungan baik dengan ayah akan memiliki emosi yang lebih stabil kala menghadapi stres saat dewasa.

Peneliti melakukan survei terhadap 921 pria dan wanita dewasa yang dilakukan melalui wawancara melalui telepon. Partisipan berusia mulai dari 25 tahun hingga 74 tahun yang difokuskan pada masalah psikologis dan emosi.

Contoh pertanyaannya seperti apakah partisipan mengalami depresi, gelisah atau sedih jika sedang stres dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi itu muncul bisa karena adu argumentasi, perselisihan, ketegangan dalam kerja, masalah keluarga hingga mengalami diskriminasi.

Partisipan juga ditanya tentang kualitas hubungan masa kecilnya dengan ayah dan ibu. Pertanyaan yang diajukan seperti bagaimana partisipan menilai hubungannya dengan ayah dan ibu selama bertahun-tahun. Berapa banyak waktu dan perhatian yang didapatkan saat partisipan sedang membutuhkannya.

Hasilnya ditemukan partisipan cenderung memiliki masa kecil yang baik dengan ibu ketimbang ayah. Hubungan dengan ibu juga jarang mengalami tekanan psikologis. Sementara hubungan dengan ayahnya hambar.

"Hasil ini memang tidak mengejutkan karena penelitian masa lalu telah menunjukkan ibu memang yang berperan dalam perawatan anak dan selalu bisa memberikan kenyamanan," kata Profesor Mallers yang telah mempresentasikan penemuannya dalam the 118th Annual Convention of the American Psychological Association di San Diego.

Ayah memang memiliki gaya yang unik dalam berinteraksi dengan anak-anaknya. Namun psikolog memandang ayah jangan terlalu cuek dengan anaknya karena dampaknya bisa pada emosi anak saat dewasa.

(ir/up)

Minggu, 15 Agustus 2010

Disiplin

Aneh tapi nyata. Terkadang mereka justru berulang karena berharap Anda akan menegakan peraturan. Berikut cara melakukannya dengan benar.
Disiplin memang tidak sama dengan hukuman. Jenis disiplin yang terbaik lebih menyerupai pengajaran : tunjukan pada anak harapan kita akan tingkah laku mereka. Agar merasa aman, anak membutuhkan peraturan yang jelas. Inilah saat-saat ketika si kecil sebenarnya meminta Anda "meluruskannya'.

RIBUT SOAL JAM TIDUR
Mengapa anak butuh disiplin ; Anak - anak yang masih kecil enggan melepaskan sesuatu yang kelihatannya menyenangkan (terjaga sampai larut malam), meski itu demi kebaikan mereka (agar bisa tidur lebih banyak). Pasalnya, tubuh kecil mereka membutuhkan siklus tidur yang dapat diandalkan. Jadi, ia ingin Anda mengajarinya cara agar bisa selalu menenangkan diri di malam hari.
Yang harus dilakukan : Biarkan anak memiliki sedikit kontrol. Mungkin kedengarannya seolah ada kemunduran, ketika yang berusaha Anda lakukan adalah mendisiplinkannya. Tapi, jika anak Anda merasa memiliki secara otoritas, hal itu akan membantunya mengikuti aturan yang terpenting.
Walau Anda ingin sekali akhirnya punya kesempatan untuk duduk di depan TV menonton acara kegemaran, tahan diri untuk tidak berteriak, "Ayo sana, sikat gigi! Pakai baju tidur! langsung naik ke tempat tidur! Sekarang juga!" SEbaiknya, tentukan jam tidur yang Anda inginkan, tapi usahakan untuk mewujudkannya dengan cara yang dipilih sikecil. Pilihan-pilihan seperti "Kamu mau pakai baju tidur dulu, atau gosok gigi dulu?" akan membantu membimbingnya menjalankan rutinitas malam dan memungkinkannya mulai mengambil tanggung jawab lebih. Memasang poster dengan gambar masing-masing ritual malam juga bagus untuk membuat anak usia dua setengah taun bisa mengikuti dan bersikap manis menjelang tidur. Anda mungkin perlu memberi tanda pada si kecil untuk melakukan setiap langkah dengan bertanya, "Setelah mandi, lalu apa?" Tapi, waktu untuk ribut-ribut setiap kali mau tidur mungkin akan berkurang jika Anda lebih bersikap seperti pembimbing ketimbang bos tukang perintah.

-------- bersambung-----------
Parenting, april 2008