Powered By Blogger

Sabtu, 21 Agustus 2010

Kenali Isyarat Wajah Bayi

Jumat, 20/08/2010 10:30 WIB

Kenali Isyarat Wajah Bayi

Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Bayi biasanya akan melakukan komunikasi dengan menggunakan anggota tubuh dan juga mimik wajah, tapi terkadang orangtua tidak menyadari hal tersebut. Karena itu kenali bahasa isyarat dari wajah bayi.

Salah satu hal yang membuat orangtua merasa frustasi adalah merasa tidak dapat mengenali keinginan dan kebutuhan sang bayi, seperti apakah ia merasa lapar, suasana tidak nyaman atau merasa sakit.

"Bayi bisa melakukan komunikasi jauh sebelum ia bisa mengucapkan kata-kata pertamanya," ujar Linda Acredolo, PhD, profesor psikologi di University of California, seperti dikutip dari Parenting, Jumat (20/8/2010).

Selain itu bayi sebenarnya sudah terlahir dengan memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi, termasuk emosi stres atau bahaya dan emosi senang atau kepuasan. Ketika orangtua bisa menanggapai dengan cepat isyarat yang diberikan oleh si bayi, maka bayi akan merasa aman dan ikatan yang terjalin antara orangtua dan bayi akan semakin kuat.

Tapi tidak mudah untuk memahami isyarat yang diberikan oleh si bayi, karena tidak semua bayi memberikan sinyal yang sama persis dan kadang membutuhkan waktu berbulan-bulan sebelum akhirnya benar-benar memahami bahasa bayinya. Salah satu isyarat yang diberikan oleh bayi adalah melalui wajahnya.

"Ekspresi wajah lebih halus dibandingkan dengan menangis, misalnya hanya sedikit mengerut atau hanya dahinya saja yang berkerut. Tapi orangtua tetap bisa memahami isyarat wajah ini," ujar David Hill, MD, asisten profesor pediatri dari University of North Carolina Medical School.

Untuk itu tak ada salahnya untuk memahami isyarat yang diberikan si bayi melalui wajah mungilnya, yaitu:

Tatapan menolak
Bayi terkadang memerlukan istirahat dari aktivitas kontak mata sehingga memalingkan mukanya. Sekitar usia dua bulan, bayi terkadang memutar kepalanya ke samping, bermain dengan jari tangan dan kakinya atau bahkan menangis. Hal ini biasanya dilakukan untuk memutuskan kontak dengan orang dewasa.

Orangtua terkadang terus berbicara dengan bayinya atau mencoba bergerak mengikuti mata sang bayi untuk bisa mendapatkan perhatian bayinya kembali. Tapi bayi juga membutuhkan waktu untuk beristirahat. Karenanya orangtua bisa menunggu dengan tenang sampai bayi kembali melihat wajah orangtua dan tersenyum kembali.

Tersenyum
Bayi akan senyum untuk pertama kalinya pada usia 6-8 minggu. Pada usia dini, senyum bayi cenderung memberikan arti adanya kepuasaan secara fisik, misalnya saat mendapatkan handuk hangat setelah mandi atau berada di sekitar orang-orang yang memang menyanyanginya.

Usahakan orangtua tetap mendorong bayi dengan bereaksi secara positif agar bayi tetap bisa tertawa dan tersenyum kembali. Selain itu takada salahnya untuk memberikan pujian atau kata-kata positif ketika bayi tersenyum. Karena meskipun bayi tidak memahami kata-kata tersebut, setidaknya ia tetap mendapatkan pesan.

Peniru wajah
Pada usia 3-4 bulan, kebanyakan bayi akan belajar untuk meniru ekspresi wajah seperti takut, ekspresif dan sedih. Kemudian saat usia sembilan bulan, jika ia melihat orang asing maka ia akan melihat wajah ibunya dan melihat ekspresi sang ibu. Jika ibunya tertawa maka iapun akan tertawa, tapi jika ibunya menunjukkan ekspresi tertekan maka ia akan menangis dan menempel dengan sang ibu.

Untuk itu jika orangtua merasa stres atau tertekan, sebaiknya tidak menunjukkan wajah tersebut di depan sang bayi. Karena bayi biasanya akan jauh merasa stres dibandingkan dengan ibunya. Usahakan untuk tersenyum atau memberikan sentuhan-sentuhan halus bagi sang bayi agar ia tetap merasa tenang.

Selasa, 17 Agustus 2010

Anak Emosinya Stabil Jika Punya Kenangan Baik dengan Ayah

Senin, 16/08/2010 09:27 WIB

Anak Emosinya Stabil Jika Punya Kenangan Baik dengan Ayah

Irna Gustia - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Ayah sering digambarkan sebagai sosok yang kaku, kurang bisa berkomunikasi dengan anak, otoriter dan tidak suka dibantah. Jarang sekali anak yang memiliki hubungan yang baik dengan si ayah ketika kecil.

Kesibukan ayah sebagai pencari nafkah kerap membuat anak jarang bertemu bapaknya kecuali hari libur. Belum lagi jika pulang kerja ayah lebih sering menampilkan wajah capek dan cemberut yang membuat anak-anak takut mendekat.

Para pakar psikologi menemukan hubungan ayah dan anak juga bisa mempengaruhi emosi anak saat dewasa. Selama ini penelitian lebih banyak fokus pada hubungan ibu dan anak.

Psikolog dari California State University-Fullerton, Profesor Melanie Mallers menemukan anak-anak yang punya hubungan baik dengan ayah akan memiliki emosi yang lebih stabil kala menghadapi stres saat dewasa.

Peneliti melakukan survei terhadap 921 pria dan wanita dewasa yang dilakukan melalui wawancara melalui telepon. Partisipan berusia mulai dari 25 tahun hingga 74 tahun yang difokuskan pada masalah psikologis dan emosi.

Contoh pertanyaannya seperti apakah partisipan mengalami depresi, gelisah atau sedih jika sedang stres dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi itu muncul bisa karena adu argumentasi, perselisihan, ketegangan dalam kerja, masalah keluarga hingga mengalami diskriminasi.

Partisipan juga ditanya tentang kualitas hubungan masa kecilnya dengan ayah dan ibu. Pertanyaan yang diajukan seperti bagaimana partisipan menilai hubungannya dengan ayah dan ibu selama bertahun-tahun. Berapa banyak waktu dan perhatian yang didapatkan saat partisipan sedang membutuhkannya.

Hasilnya ditemukan partisipan cenderung memiliki masa kecil yang baik dengan ibu ketimbang ayah. Hubungan dengan ibu juga jarang mengalami tekanan psikologis. Sementara hubungan dengan ayahnya hambar.

"Hasil ini memang tidak mengejutkan karena penelitian masa lalu telah menunjukkan ibu memang yang berperan dalam perawatan anak dan selalu bisa memberikan kenyamanan," kata Profesor Mallers yang telah mempresentasikan penemuannya dalam the 118th Annual Convention of the American Psychological Association di San Diego.

Ayah memang memiliki gaya yang unik dalam berinteraksi dengan anak-anaknya. Namun psikolog memandang ayah jangan terlalu cuek dengan anaknya karena dampaknya bisa pada emosi anak saat dewasa.

(ir/up)

Minggu, 15 Agustus 2010

Disiplin

Aneh tapi nyata. Terkadang mereka justru berulang karena berharap Anda akan menegakan peraturan. Berikut cara melakukannya dengan benar.
Disiplin memang tidak sama dengan hukuman. Jenis disiplin yang terbaik lebih menyerupai pengajaran : tunjukan pada anak harapan kita akan tingkah laku mereka. Agar merasa aman, anak membutuhkan peraturan yang jelas. Inilah saat-saat ketika si kecil sebenarnya meminta Anda "meluruskannya'.

RIBUT SOAL JAM TIDUR
Mengapa anak butuh disiplin ; Anak - anak yang masih kecil enggan melepaskan sesuatu yang kelihatannya menyenangkan (terjaga sampai larut malam), meski itu demi kebaikan mereka (agar bisa tidur lebih banyak). Pasalnya, tubuh kecil mereka membutuhkan siklus tidur yang dapat diandalkan. Jadi, ia ingin Anda mengajarinya cara agar bisa selalu menenangkan diri di malam hari.
Yang harus dilakukan : Biarkan anak memiliki sedikit kontrol. Mungkin kedengarannya seolah ada kemunduran, ketika yang berusaha Anda lakukan adalah mendisiplinkannya. Tapi, jika anak Anda merasa memiliki secara otoritas, hal itu akan membantunya mengikuti aturan yang terpenting.
Walau Anda ingin sekali akhirnya punya kesempatan untuk duduk di depan TV menonton acara kegemaran, tahan diri untuk tidak berteriak, "Ayo sana, sikat gigi! Pakai baju tidur! langsung naik ke tempat tidur! Sekarang juga!" SEbaiknya, tentukan jam tidur yang Anda inginkan, tapi usahakan untuk mewujudkannya dengan cara yang dipilih sikecil. Pilihan-pilihan seperti "Kamu mau pakai baju tidur dulu, atau gosok gigi dulu?" akan membantu membimbingnya menjalankan rutinitas malam dan memungkinkannya mulai mengambil tanggung jawab lebih. Memasang poster dengan gambar masing-masing ritual malam juga bagus untuk membuat anak usia dua setengah taun bisa mengikuti dan bersikap manis menjelang tidur. Anda mungkin perlu memberi tanda pada si kecil untuk melakukan setiap langkah dengan bertanya, "Setelah mandi, lalu apa?" Tapi, waktu untuk ribut-ribut setiap kali mau tidur mungkin akan berkurang jika Anda lebih bersikap seperti pembimbing ketimbang bos tukang perintah.

-------- bersambung-----------
Parenting, april 2008

Selasa, 22 Juni 2010

Kenapa Anak Selalu Bertanya 'Mengapa'?

Senin, 21/06/2010 14:00 WIB

Kenapa Anak Selalu Bertanya 'Mengapa'?
Vera Farah Bararah - detikHealth

ilustrasi (Foto: sheknows)Jakarta, Setiap orangtua pasti mendapati anaknya yang selalu bertanya 'Mengapa' setiap kali menemukan sesuatu yang baru. Yang terkadang mengharuskan orangtua bersabar dan menjawab dengan bijak. Kenapa anak-anak selalu bertanya 'Mengapa'?
Kondisi ini adalah salah satu tahapan yang hampir pasti dilalui oleh semua anak-anak, saking seringnya bertanya orangtua terkadang kewalahan atau bahkan emosi sambil berkata 'Jangan nanya terus'.
Tentu saja hal tersebut bukanlah solusi yang baik karena bisa membuat anak menjadi takut untuk bertanya kembali. Jika anak penasaran, maka tak jarang ia akan mencari jawabannya sendiri sehingga anak bisa saja mendapatkan jawaban yang salah.
Seperti dikutip dari WashingtonPost, Senin (21/6/2010) sebuah tim peneliti dari University of Hawaii dan University of Michigan menemukan penyebab anak-anak lebih suka bertanya 'Mengapa' adalah sebagai sarana untuk mendapatkan informasi mengenai dunia ini.
Hasil penelitian ini juga menunjukkan ketika anak-anak mendapatkan informasi yang jelas atau sesuai dengan keingintahuannya, maka anak akan lebih cepat berhenti bertanya atau menghentikan interogasinya.
untuk menghentikan 'siklus mengapa', maka orangtua harus mencari tahu jawaban seperti apa yang diinginkan atau bisa memuaskan si kecil. Orangtua sebaiknya tidak memarahi atau menjawab sembarangan pertanyaan si kecil.
Jika memang orangtua tidak tahu jawabannya, maka jawablah dengan jujur dan berusaha mencaritahu jawabannya karena suatu saat anak akan bertanya kembali.
Sementara itu Leon Hoffman, MD, direktur dari Pacella Parent Child Center di New York Psychoanalytic Society & Institute menuturkan kemungkinan penyebab anak-anak ini suka bertanya mengapa adalah untuk:
1. Memahami kata-kata.
Anak-anak yang berusia antara 1-2 tahun adalah masanya untuk belajar berbicara, sehingga anak-anak ini seringkali mengulangi pertanyaan atau bertanya mengapa untuk mendapatkan kejelasan dari setiap kata yang didengar atau diucapkannya.
2. Membangun memori.
Terkadang diperlukan waktu beberapa saat bagi anak yang sedang berkembang untuk menyimpan informasi baru di dalam pikirannya. Mendengar orangtua yang dipercayainya memberikan jawaban bisa membantu mendorong anak untuk memahami konsep kata baru.
3. Menemukan kenyamanan.
Sejak balita, anak-anak biasanya menemukan kenyamanan dalam hal pengulangan dan mengajukan pertanyaan yang sama kembali sebagai salah satu cara untuk meminta dukungan emosional.

Dr Hoffman menyarankan agar orangtua meluangkan waktu untuk menjawab sesering mungkin pertanyaan dari anak. Karena anak hanya ingin mencari tahu sesuatu hal yang baru dan masa ini pasti akan berlalu dengan sendirinya.


(ver/ir)

Menyiapkan Anak Menghadapi Pubertas

Rabu, 23/06/2010 10:35 WIB

Menyiapkan Anak Menghadapi Pubertas


Sandika Dwi Putri - detikHealth


Ilustrasi (Foto: saintbarnabas)Jakarta, Jangan terkejut ketika anak yang selama ini dianggap masih kecil mulai memiliki ketertarikan seksual atau menunjukkan beberapa perilaku seksual. Itu hal yang normal dan sebaiknya orangtua mempersiapkan anak menghadapi pubertas.
Pubertas membawa perubahan fisik dan emosi yang cukup dramatis, yang mungkin saja menakutkan bagi anak-anak yang belum siap.
Anak bisa tenang ketika anggota keluarga mulai menyadari perubahan dalam diri mereka. Bicara tentang bagaimana kau merasa dan bagaimana mengatasi situasi rumit seperti menstruasi atau mimpi basah perlu dilakukan agar anak tidak kaget menghadapi pubertas.
Seperti dilansir dari Better Health Channel, Rabu (23/6/2010), pada usia sekolah dasar, perilaku-perilaku tertentu yang muncul bisa berupa:
1. Anak merasa malu bila telanjang di depan orang tua mereka.
2. Anak mulai berkumpul dengan teman sesama jenisnya, dan mulai mengeluhkan 'gangguan anak perempuan' dan 'gangguan anak laki-laki' ketika membicarakan lawan jenis.
3. Permainan yang dilakukan bisa berupa permainan ciuman atau memerankan pernikahan.
4. Anak-anak penasaran mengenai perbedaan gender, hubungan seksual dan kehamilan. Dan mereka juga mulai membicarakan topik ini di antara mereka sendiri dengan berbagai tingkatan tertentu.
5. Permainan gender yang dimulai di awal masa kanak-kanak, seperti bermain 'dokter-dokteran', bisa saja terus berlanjut karena anak-anak usia ini tertarik untuk mengetahui lebih.

Bagaimana mempersiapkan anak menghadapai pubertas?
1. Mulailah pembicaraan mengenai pubertas saat anak berusia 9 tahun.
2. Bila Anda merasa tidak yakin atau tidak jelas mengenai perubahan pubertas, cari tahulah.
3. Gunakan alat-alat seks edukasi yang sesuai dengan usia, seperti buku, untuk menjelaskan pada anak Anda mengenai perubahan yang akan mereka alami.
4. Anak-anak perempuan bisa mulai menstruasi mereka saat usia 8 tahun. Pastikan kalau mereka tahu apa yang harus dilakukan. Tunjukkan padanya seperti apa itu pembalut. Semakin mendekatnya waktu, sediakan pembalut dalam kemasan kecil di tas mereka.
5. Anak lelaki perlu tahu mengenai ereksi dan mimpi basah yang tidak diinginkan, sebelum hal ini terjadi, sehingga kejadian ini tidak mengagetkan mereka.
6. Beritahu para anak perempuan mengenai perubahan pubertas laki-laki, begitu pula sebaliknya.

Selain masalah pubertas, anak juga mendapat informasi mengenai hubungan seksual agar tidak salah langkah. Hal-hal yang sebaiknya anda lakukan dalam berbicara dengan anak mengenai topik seksual ini antara lain:
1. Jangan tunggu anak anda untuk bertanya. Jika usia anak anda sudah mencapai 10 tahun, tetapi mereka belum pernah menanyakan apapun pada anda, namapaknya rasa malu membuatnya berhenti pada poin ini.
2. Beberapa anak mungkin merasa lebih sederhana saat usia 6 tahun dan mungkin menginginkan keleluasaan pribadi di kamar mandi. Hal ini merupakan kesempatan yang baik untuk membuatnya yakin kalau mereka bisa mengatakan 'tidak' atas apa yang tidak mereka inginkan.
3. Masturbasi adalah hal normal dan sehat untuk anak-anak dan bisa saja sudah terjadi jauh sebelum masa pubertas dimulai. Yang perlu diketahui anak-anak, masturbasi adalah suatu hal yang dilakukan secara pribadi.
4. Banyak orang tua yang mulai membicarakan tentang kehamilan ketika anak mereka masih berusia pra-sekolah. Tentunya, sangat penting untuk memulai pembicaraan ketika usia mereka 8 atau 9 tahun. Jika anak Anda belum pernah bertanya, Anda bisa mulai dengan pertanyaan, 'Pernahkah kau bayangkan bagaimana kau lahir?'. Cari kesempatan untuk memulai pembicaraaan, contohnya menggunakan buku atau mengomentari saudara yang sedang hamil.
5. Beberapa anak perempuan akan mulai berkembang dadanya dan berakhir pada usia 8 tahun. Pada usia 9 tahun, mulai bercakap-cakap dengan laki-laki dan perempuan mengenai pertumbuhan dan perubahan tubuh.
6. Pastikan anak Anda tahu pada siapa mereka bisa bicara mengenai hal memalukan. Beritahukan padanya, ke mana mereka harus bertanya bila mereka membutuhkan bantuan orang dewasa, di saat mereka segan untuk mendatangi Anda.

(ir/ir)

Kamis, 17 Juni 2010

Kondisi Ibu Hamil yang Tak Boleh Diabaikan

Selasa, 15/06/2010 10:44 WIB
Kondisi Ibu Hamil yang Tak Boleh Diabaikan
Vera Farah Bararah - detikHealth

Ilustrasi (foto: getty images)Jakarta, Saat hamil seorang calon ibu kadang mengalami banyak perubahan dalam tubuhnya, sehingga bingung untuk mengetahui kondisi apa saja yang harus dikhawatirkan. Kenali kondisi ibu hamil yang tidak boleh diabaikan.
Perempuan yang baru mengandung anak pertama terkadang belum memiliki pengalaman mengenai kehamilan, sehingga tidak mengetahui kondisi seperti apa yang tidak boleh diabaikan. Seperti dikutip dari  Babycenter, Selasa (15/6/2010) ada beberapa hal yang sebaiknya tidak diabaikan oleh ibu hamil, yaitu:
- Bayi yang dikandung tidak bergerak atau menendang seperti biasanya. Ibu hamil sebaiknya mulai membiasakan diri untuk menghitung gerakan bayi tiap harinya, hal ini penting sebagai deteksi awal.
- Mengalami sakit perut atau nyeri yang persisten.
- Mengalami perdarahan atau bercak darah dari vagina.
Adanya peningkatan cairan vagina seperti berair atau berlendir. Tapi jika terjadi setelah 37 minggu, maka kondisi ini normal dan bisa menjadi petunjuk untuk segera melahirkan.
- Mengalami tekanan di tulang panggul, sakit pada pinggang atau mengalami lebih dari empat kali kontraksi dalam sehari sebelum usia kehamilan 37 minggu.
- Muntah yang terus menerus atau disertai dengan demam dan sakit.
- Merasa nyeri saat buang air kecil atau hanya sedikit urin yang keluar saat berkemih.
- Sakit kepala yang persisten atau disertai dengan gangguan penglihatan.
- Pembengkakan yang terjadi tidak hanya di tangan dan kaki tapi juga di sekitar wajah atau mata.
- Kenaikan berat badan yang terlalu drastis misalnya lebih dari 4 kilo dalam seminggu.
- Sering pusing, detak jantung yang cepat, kesulitan bernapas atau pernah mengalami trauma perut.
- Kontak dengan penyakit menular seperti cacar air atau rubela, jika belum pernah terpapar penyakit tersebut maka segera konsultasikan dengan dokter untuk melakukan upaya pencegahan.
- Mengalami depresi atau kecemasan yang berat. Hal ini harus segera diatasi sehingga tidak mengganggu kehamilan serta perkembangan janin yang dikandungnya.
- Tubuh seseorang yang hamil memang bisa berubah sangat cepat sehingga sulit untuk mengetahui apakah hal tersebut normal atau tidak. Jika tidak yakin dengan gejala yang dialami atau membuat ibu hamil merasa tidak nyaman, maka tak ada salahnya berkonsultasi dengan dokter untuk lebih menyakinkan.


(ver/up)

Mengatasi Kebiasaan Ngempeng si Kecil

Kamis, 17/06/2010 14:15 WIB

Mengatasi Kebiasaan Ngempeng si Kecil
Vera Farah Bararah - detikHealth

(Foto: parentdish)Jakarta, Saat ini banyak orangtua yang menggunakan bantuan empeng untuk menenangkan bayinya. Tapi jika kebiasaan ini berlanjut terus akan membuat orang tua sulit melepaskannya. Lalu bagaimana mengatasi anak yang masih suka ngempeng?
Setiap bayi pada usia tertentu memang memiliki dorongan alami untuk mengisap, dan hal ini tidak selalu berarti buruk karena bayi bisa mengatur sendiri kenyamanannya. Tapi jika kebiasaan ini tidak dihentikan, maka akan menimbulkan kerugian pada anak nantinya terutama terhadap pertumbuhan giginya.
Seperti dikutip dari ParentDish, Kamis (17/6/2010) tidak mudah memang untuk bisa menghentikan kebiasaan ini, terutama jika sudah terjadi sejak masih bayi. Namun American Asociated of Pediatrics (AAP) menuturkan kebiasaan mengisap empeng ini harus dihentikan saat anak berusia 2-4 tahun. Jika hingga usia di atas 4 tahun masih dilakukan, maka akan menimbulkan kerugian seperti gangguan dalam pola makannya.
Dr Charles Shubin, direktur divisi pediatri dari Mercy FamilyCare, Baltimore mengungkapkan bahwa tidak ada cara ajaib yang bisa langsung menghentikan kebiasaan anak. Karena itu semuanya membutuhkan proses dan orangtua harus mengetahui satu atau dua hal mengenai kebiasaan anaknya itu.
"Orangtua bisa memberitahu anak bahwa ia hanya boleh menggunakan empeng di rumah saja. Setelah aturan ini bisa dilaksanakan, maka batasi kembali penggunaannya hanya di ruang-ruang tertentu, seperti kamar tidurnya," ungkap Dr Shudin.
Setelah berhasil, maka hal berikutnya adalah membatasi waktu penggunaannya. Mulailah dengan hanya boleh menggunakan saat malam hari saja, lalu dipersempit lagi hanya pada waktu-waktu tertentu. Memberikan batasan-batasan seperti ini juga termasuk pembelajaran perkembangan anak.
Salah satu alasan anak masih mengempeng karena bisa mengurangi rasa ketidaknyamanan si kecil, untuk itu orangtua harus mengetahui penyebabnya. Kondisi ini bisa diganti dengan lebih sering memberinya perhatian, memberinya kegiatan lain untuk mengalihkan perhatiannya dari empeng atau memberikan makan, minum dan cemilan yang cukup sehingga anak tidak perlu mengisap empeng untuk menahan lapar dan haus.
"Hal terpenting lainnya gunakanlah kata-kata dan motivasi yang positif. Jika anak menggunakan empeng di saat atau tempat yang dilarang, maka jangan memarahinya, tapi cukup berinya konsekuensi dengan kata-kata yang lembut. Jika anak berhasil menghentikan kebiasaannya ini, maka jangan sungkan-sungkan untuk memberinya pujian," saran Dr Shubin.

(ver/mer)

Bagaimana Memilih Sepatu yang Sehat untuk Ibu Hamil?

Kamis, 17/06/2010 12:00 WIB

Bagaimana Memilih Sepatu yang Sehat untuk Ibu Hamil?
Vera Farah Bararah - detikHealth

(Foto: modernmom)Jakarta, Perempuan yang sedang hamil terkadang tetap ingin terlihat gaya, termasuk dalam memilih sepatu. Tapi karena selama hamil terjadi pembengkakan kaki terkadang hal ini sulit dilakukan. Karena itu ketahui sepatu apa yang sehat dan aman untuk ibu hamil.

"Perempuan yang merasa tertekan menggunakan sepatu bertumit tinggi akan mempertaruhkan risiko gangguan jangka panjang akibat ketegangan yang terjadi pada pergelangan kaki dan juga ligamennya. Selain itu banyak pula ibu hamil yang rutin menggunakan sepatu yang tidak nyaman untuk dipakai," ujar Lorraine Jones dari The Society of Chiropodists and Podiatrists, seperti dikutip dari Telegraph, Kamis (17/6/2010).

Jones mengungkapkan, berdasarkan poling yang dilakukan terhadap 1.000 ibu hamil mengenai sepatu yang digunakannya, ternyata tidak ada satupun yang menggunakan sepatu dengan cocok karena hanya memberikan sedikit dukungan untuk sepatunya.

"Penambahan berat badan dan perubahan hormonal selama kehamilan memiliki dampak yang besar bagi tubuh. Otot dan ligamen akan melunak dan meregang akibat peningkatan hormon ovarian dan relaksin, sehingga membuat kaki lebih rentan terkena cedera," ungkapnya.

Jika ibu hamil menggunakan sepatu bertumit tinggi, maka bisa membuat betis mengencang dan meningkatkan tekanan terhadap lutut serta tulang punggung. Hal ini akan meningkatkan kemungkinan untuk jatuh. Sedangkan sepatu balet dan sepatu flip flop yang tidak cocok dipakai sehari-hari karena terlalu datar, bisa memberikan dukungan yang tidak tepat untuk kaki.
Survei menemukan bahwa sekitar setengah dari ibu hamil yang disurvei mengaku menggunakan sepatu bertumit tinggi untuk mengikuti tren selebriti yang ada. Namun, didapati sekitar 37 persen mengalami pembengkakan di pergelangan kakinya, 45 persen mengalami pembengkakan kaki dan sekitar 16 persen mengalami nyeri kaki dan tumit.

"Jika sedang hamil, pilihlah sepatu yang pas di kaki tanpa menimbulkan rasa sakit serta bertumit rendah. Sepatu nyaman yang dilengkapi dengan tali bisa mendukung kaki dan pergelangan kaki serta meminimalkan ketidaknyamanan yang dapat mencegah cedera jangka panjang," ujar Jones.

The Society of Chiropodists and Podiatrist memberikan tips bagi ibu hamil agar tetap bisa memiliki kaki yang sehat selama kehamilan, yaitu:
- Gunakan alas kaki yang nyaman, bisa mendukung kaki dan idealnya menggunakan tali. Selain itu sepatu sebaiknya ditunjang juga dengan penyerapan shock tambahan, lengkungan kaki yang mendukung serta - bagian tumit yang kuat untuk mencegah cedera.
- Jika ingin menggunakan sepatu bertumit, pilihlah sepatu yang memiliki ketinggian 3 cm.
- Menghindari penggunaan sepatu bertumit tinggi, karena berisiko menimbulkan cedera pada sendi atau pergelangan kaki.
- Menghindari menyilangkan kaki atau tumit saat sedang duduk.
- Pastikan masih terdapat ruang setidaknya 1 cm antara ujung kaki dengan ujung dari sepatu.

(ver/mer)

Rabu, 16 Juni 2010

Mother and Kiddy friends


We love U Mother and Kiddy :
buat mama dan anandanya mau ditampilkan fotonya diblog ini, segera kirimkan 2 foto ke mailto:yeni.hendaryani@gmail.com....ditunggu yaaa
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

Kiddy Action


%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

Aksi Ananda Jerrel & Jerren






%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

Aksi Ananda Aji & Uti


%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

Aksi Ananda Ardan


%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Aksi ananda Zaki




%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Aksi ananda Aisyah dan Mama


%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Aksi Ananda Fadel & Raja












%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

Mother and Kiddy Friends
" FUN & CUTE "

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%