Powered By Blogger

Sabtu, 28 Mei 2011

Mitos Berat Badan Usai Melahirkan

Rabu, 25/05/2011 13:47 WIB 

Mitos Berat Badan Usai Melahirkan

Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Setiap perempuan yang baru saja melahirkan pasti ingin tubuhnya kembali ke bentuk semula. Ada beberapa mitos tentang berat badan setelah melahirkan yang dipercaya banyak perempuan usai melahirkan padahal itu keliru.

Peneliti telah menemukan bahwa kehamilan menjadi salah satu penyebab utama kenaikan berat badan pada perempuan. Hal ini telah diteliti secara ilmiah selama dua dekade terakhir. Tapi bukan berarti seorang perempuan tidak akan gemuk jika ia tidak hamil, karena banyak faktor lain yang bisa mempengaruhinya.

Saat hamil hampir semua bagian tubuh mengalami perubahan, seperti volume darah yang meningkat setidaknya sebesar 15 persen, rahim yang terus membesar untuk menunjang pertumbuhan janin akan membuat otot perut berubah serta penumpukan lemak di beberapa bagian tubuh.

Berikut ini adalah beberapa mitos yang umum seputar berat badan ibu setelah melahirkan, seperti dikutip dari Livestrong, Rabu (25/5/2011) yaitu:

1. 'Jika saya melahirkan melakui operasi caesar, maka dokter bisa sekaligus memotong lemak berlebih di tubuh'
Jenis sayatan untuk bedah caesar bukan seperti pemotongan otot. Karenanya dinding perut tidak berubah kecuali hanya mengalami pembengkakan. Setelah sembuh maka kontur perut akan tetap sama.

2. 'Saya bisa makan dan minum apa saja setelah melahirkan'
Jika ibu menyusui dan memberikan ASI eksklusif pada bayinya, maka ia tidak bisa makan dan minum secara sembarangan. Karena apapun yang dikonsumsinya bisa mempengaruhi susu yang dihasilkan.

3. 'Saya bisa mendapatkan perut rata jika saya melakukan treadmill'
Otot-otot rektus yang menjadi tempat dari perut six-pack akan keluar selama kehamilan dan persalinan. Ketika seseorang telah memiliki bayi maka bentuknya akan seperti diamond atau tonjolan. Karena itu tidak bisa mendapatkan perut rata dengan melakukan treadmill, tapi butuh waktu tertentu untuk membuatnya kembali normal.

Biarkan tubuh melakukannya sendiri, karena seperti pada otot panggul akan mengalami trauma selama hamil dan melahirkan, sehingga butuh waktu sedikitnya 6 minggu dalam proses penyembuhannya.

Karenanya diperlukan kesabaran agar bisa mendapatkan bentuk badan seperti sebelum hamil atau justru lebih baik. Untuk itu lawanlah dorongan untuk segera melakukan fitnes di pusat kebugaran.

(ver/ir

Tanda-tanda Otak Bayi Ada yang Tidak Beres

Rabu, 25/05/2011 14:44 WIB 

Tanda-tanda Otak Bayi Ada yang Tidak Beres

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth


img
foto: Thinkstock
Jakarta, Risiko gangguan mental dan perkembangan otak bayi paling akurat jika dideteksi melalui skrining hormon. Namun secara kasat mata, beberapa perilaku selama proses tumbuh kembang bayi juga bisa dipakai untuk mendeteksi gangguan tersebut.

Dimulai sejak baru lahir, kondisi otak dikatakan relatif normal jika bayi tersebut langsung menangis. Jika tidak menangis, ada kemungkinan bayi tersebut kekurangan suplai oksigen di otaknya akibat berbagai hal yang bisa mempengaruhi perkembangan otak.

Kondisi lain yang perlu diwaspadai adalah kuning memanjang, atau penyakit kuning yang tidak sembuh hingga lebih dari 20 hari. Bayi yang mengalami kondisi seperti ini berisiko mengalami gangguan pada fungsi otak, sehingga membutuhkan intervensi pengobatan.

Bayi lahir prematur dengan berat badan di bawah 2.500 gram juga berisiko mengalami gangguan perkembangan otak. Tiap tahun, kondisi berat badan kurang diperkirakan terjadi pada 550 ribu bayi di Indonesia atau 11,5 persen dari 5 juta angka kelahiran dalam setahun.

"Perkembangan otak pada bayi baru lahir normalnya baru 42 persen, lalu pada usia sekitar 6 tahun sudah akan mencapai 98 persen. Kita menyebut 6 tahun pertama sebagai golden period sehingga harus dioptimalkan," ungkap Ketua Satgas Perlindungan Anak Ikatan Dokter Indonesia, Dr dr Tb Rachmat Sentika, SpA, MARS usai seminar Skrining Bayi Baru Lahir untuk Mencegah Keterbelakangan Mental di Hotel Twin Plaza, Jl Jend S Parman, Jakarta Pusat, Rabu (25/5/2011).

Dr Rachmat menambahkan, gangguan perkembangan otak pada bayi juga bisa dipengaruhi oleh kondisi hormon terutama tiroid. Kekurangan hormon tiroid memicu Hipotiroid Kongenital, yang jika terlambat mendapat pengobatan bisa mengakibatkan retardasi atau keterbelakangan mental.

Pemeriksaan hormon tiroid hingga saat ini belum diwajibkan oleh pemerintah, namun Dr Rachmat menilai skrining tersebut sangat penting untuk dilakukan. Hipotiroid Kongenital seringkali baru menampakkan gejala ketika sudah terlambat, yakni setelah bayi berusia 3 bulan.

Gejala Hipotiroid yang tidak tertangani antara lain sebagai berikut:


  1. Lidah membesar (makroglosia)
  2. Sakit kuning berkepanjangan (lebih dari 20 hari)
  3. Pusar bodong (hernia umbilical)
  4. Berat badan dan tinggi badan kurang.

Lebih lanjut Dr Rachmat menambahkan, gangguan perkembangan otak yang bukan dipicu oleh Hipotiroid Kongenital bisa juga diamati dari beberapa indikator sebagai berikut.

1. Kemampuan motorik kasar
Normalnya bayi mulai bisa menegakkan leher di usia 3 bulan, duduk usia 6 bulan, berdiri usia 9 bulan dan berjalan usia 1 tahun. Jika bayi mengalami keterlambatan pada perkembagan kemampuan motorik kasar ini, perlu diwaspadai adanya gangguan pada otaknya.

2. Kemampuan motorik halus
Ditandai dengan gerakan memegang-megang bagian ujung pada telapak tangan di usia 3 bulan, perlahan-lahan mulai bisa memegang daerah yang lebih sempit yakni ujung jari. Kemampuan ini bisa dirangsang atau dipacu dengan Alat Permainan Edukatif (APE).

3. Kemampuan melihat
Bayi harus sudah bisa melihat pada usia 4 bulan. Cara memeriksanya dengan "Ci Luk Ba" yakni memberikan rangsang visual untuk mengajaknya bercanda. Jika bayi tidak memberikan respons tertentu misalnya tersenyum atau tertawa, maka kemungkinan ada gangguan pada otak bayi yang menghambat kemampuannya untuk melihat.

4. Kemampuan mendengar
Normalnya sejak usia 6 bulan dalam kandungan, bayi sudah punya kemampuan untuk mendengar. Karena itu saat bayi baru lahir, perlu dilakukan tes Refleks Moro yakni dengan menepukkan tangan di dekat telinga bayi. Jika bayi tidak menunjukkan refleks mengedipkan mata, perlu diwaspadai adanya gangguan pada perkembagan otaknya.

Kamis, 19 Mei 2011

Yang Mempengaruhi Bentuk Kepala Bayi

Rabu, 18/05/2011 12:34 WIB 

Yang Mempengaruhi Bentuk Kepala Bayi

Vera Farah Bararah - detikHealth


img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Orangtua seringkali mendengar bahwa posisi tidur tertentu bisa membuat bentuk kepala bayi menjadi tidak normal. Beberapa hal memang diketahui bisa mempengaruhi bentuk kepala bayi.

Kebanyakan bayi yang baru lahir memiliki bentuk kepala lonjong atau tidak rata terutama jika dilahirkan secara normal karena harus melewati jalan lahir. Dalam kasus lain kadang terjadi perubahan bentuk kepala akibat terlalu banyak menghabiskan waktu di satu posisi.

Di kepala bayi akan terlihat ada area lembut di bagian atas yang mana tulang tengkorak belum tumbuh secara bersama-sama. Daerah ini disebut dengan fontanels (ubun-ubun) yang membantu bayi melalui jalan lahir sempit. Fontanels ini akan mengeras secara alami ketika berusia 6-20 bulan.

Ukuran kepala bayi akan terus tumbuh seiring dengan bertambahnya volume otak. Tapi karena tulang tengkorak bayi masih mudah dibentuk, maka terlalu banyak menghabiskan waktu dalam satu posisi yang sama bisa mengakibatkan perubahan bentuk kepala bayi, seperti dikutip dari Mayoclinic, Rabu (18/5/2011).

Sebelum daerah fontanels tersebut mengeras, maka bentuk kepala bayi masih bisa berubah-ubah, salah satu caranya adalah dengan mengubah posisi bayi seperti saat ia sedang tidur.

Bentuk kepala bayi yang paling umum adalah molding yaitu terlihat agak lonjong jika dilihat dari atas, tapi jika dilihat dari belakang lebih datar pada satu sisi dan telinga pada sisi datar tersebut mungkin terlihat seperti maju ke depan.

Bentuk kepala ini paling sering terjadi pada bayi yang menghabiskan sebagian besar waktunya terlentang di tempat tidur, kursi mobil atau kursi bayi. Meski begitu ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjaga bentuk kepala bayi yaitu:

  1. Mengubah arah, jika bayi sering tidur dengan posisi kepala miring ke kiri maka ubahlah ia menghadap kanan, jika perlu berikan ganjal di punggungnya agar lebih stabil posisinya.
  2. Memegang kepala bayi, ketika bayi sedang terjaga cobalah untuk memegang kepalanya agar bisa membantu mengurangi tekanan serta peganglah kepala bayi saat ia sedang makan.
  3. Cobalah sesekali menengkurapkan bayi, tempatkan bayi dalam posisi tengkurap saat bermain atau tidur tapi dengan pengawasan yang ketat terutama jika bayi belum cukup kuat menahan berat kepalanya.
  4. Cobalah menjadi kreatif sehingga memberikan bayi sudut pandang baru dan tidak terpaku pada satu sisi, misalnya dengan memberikan rangsangan berupa suara atau mainan tertentu.
 

Jumat, 04 Maret 2011

Tanda-tanda Bayi Kena Pneumonia

Kamis, 03/03/2011 12:53 WIB 

Tanda-tanda Bayi Kena Pneumonia

InspiredKids - detik health

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Karena mirip selesma (pilek), pneumonia pada bayi sering diabaikan orangtua. Padahal, dalam satu hari, dua juta orang meninggal dunia akibatpenyakit ini.

Ketua Umum IDAI Dr. Badriul Hegar, SpA(K) mengatakan pneumonia merupakan proses radang akut pada jaringan paru (alveoli) akibat infeksi kuman yang menyebabkan gangguan pernapasan.

"Mungkin karena gejalanya mirip selesma biasa, dan tidak ada efek dramatis, seperti langsung meninggal atau cacat, maka orang sering mengabaikan penyakit ini. Padahal, penyakit ini berbahaya karena dapat menyebabkan kematian pada anak akibat paru-paru tidak dapat menjalankan fungsinya untuk mendapatkan oksigen bagi tubuh. Hal inilah yang masih banyak belum dipahami para orangtua," ujar Dr. Darmawan Budi Setyanto, SpA(K), Kepala UKK Respiroksi PD-IDAI seperti ditulis, Kamis (3/3/2011).

Kekurangpahaman ini, menurut Budi, harus dibayar mahal. Pneumonia, menurut WHO, merupakan penyebab kematian tunggal pada anak, terbesar di seluruh dunia. Hingga saat ini, pneumonia membunuh hampir dua juta balita, atau sekitar 20% dari seluruh kematian balita di seluruh dunia.

"Angka ini lebih tinggi dari kematian akibat AIDS, malaria, dan campak, jika digabungkan. Setiap tahun, terjadi 155 juta kasus pneumonia di seluruh dunia. Indonesia, merupakan negara dengan tingkat kejadian pneumonia tertinggi ke-6 di seluruh dunia," jelasnya.

Balita Paling Rentan

Menurut Budi, pneumonia disebabkan oleh kuman, bisa berupa bakteri atau virus, yang mencapai paru-paru melalui beberapa rute. Pertama, kuman di udara kotor terhirup melalui hidung dan tenggorokan sampai ke paru dan terjadi infeksi. Kedua, menyebar melalui darah.

Bayi baru lahir merupakan kelompok paling rawan yang rentan tertular pneumonia dari ibunya melalui jalan lahirnya saat proses persalinan. Selain bayi, anak-anak dengan sistem imunitas yang rendah juga termasuk kelompok yang rawan terkena pneumonia.

"Balita yang tidak menerima ASI eksklusif, akan kekurangan zat seng. Begitu juga dengan penderita AIDS atau campak, memiliki risiko pneumonia tinggi,” tambah Budi.

Anak-anak yang tinggal di pemukiman yang kumuh, miskin, padat, jorok, dan kotor, juga termasuk kelompok yang beresiko lebih tinggi terkena pneumonia, dibanding kelompok di atas.

"Tempat tinggal mereka itu sangat tinggi polusi serta pajanan asap rokok dan sisa pembakaran," ujar Hegar.

Kenali Gejalanya

Gejala pneumonia pada anak bermacam-macam, tergantung usia dan penyebabnya:

1. Biasanya didahului gejala selesma berupa demam yang disertai batuk dan pilek, sakit kepala, dan hilang nafsu makan.

2. Pada perkembangan selanjutnya, akan timbul 2 gejala penting pneumonia, yaitu napas cepat dan sesak napas.

3. Jika usia anak kurang dari 2 bulan, napasnya lebih cepat dari 60 kali per menit. Jika usianya 2-12 bulan, napasnya lebih cepat dari 50 kali per menit. Sedangkan jika usianya 1-5 tahun, napasnya lebih cepat dari 40 kali per menit.

4. Untuk kategori sesak napas, ditandai dengan napas pendek, hidung kembang kempis.

5. Pada kasus pneumonia berat, terlihat adanya tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam (TDDK), kejang, penurunan kesadaran dan suhu tubuh.

"Orangtua bisa melakukan penghitungam napas ini di rumah, untuk penentuan awal apakah anaknya mengalami napas cepat atau tidak. Jika memang benar, segera larikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Jika tidak, bisa fatal akibatnya," ujar Budi.

Tidak Selalu Dirawat

Orangtua sebenarnya tidak perlu khawatir membawa anaknya yang sakit pneumonia ke dokter atau rumah sakit. Tidak semua anak dengan peneumonia perlu dirawat di rumah sakit. Jika masih tergolong ringan, anak bisa dirawat oleh keluarganya di rumah.

Cukup dengan pemberian obat antibiotik pilihan dengan dosis tepat dan teratur, dalam 1-2 minggu anak bisa sembuh total, tergantung imunitasnya.

Jika pengobatannya tidak optimal, maka efek jangka panjangnya adalah terjadinya kerusakan organ-organ di paru-paru. Namun, jika gejalanya memburuk maka orangtua harus segera membawa anak kembali ke rumah sakit.

"Tapi anak di bawah 2 tahun yang terkena pneumonia harus dirujuk ke rumah sakit karena berisiko tinggi untuk berkembang menjadi penyakit berat, bahkan kematian," ujar Budi.

Tips mencegah penumonia:
  1. Berikan ASI secara ekslusif kepada bayi selama 6 bulan
  2. Penuhi asupan gizi bayi dan balita, terutama vitamin A dan mineral seng (zinc)
  3. Berikan imunisasi lengkap pada anak, yaitu DPT (untuk mencegah terjadinya batuk rejan/100 hari/pertusis) dan campak (untuk kekebalan terhadap pneumonia dengan mencegah virus campak masuk ke paru-paru), influensa, Hib, dan pneumokokus (agar kebal dari kuman pneumonia).
  4. Jaga kebersihan lingkungan tempat tinggal dari polusi udara, seperti asap rokok,pembakaran sampah, dan kendaraan.

Ajari Anak Melawan Rasa Takut Hantu

Jumat, 04/03/2011 10:39 WIB 

Ajari Anak Melawan Rasa Takut Hantu

Merry Wahyuningsih - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Anak sebenarnya tidak punya rasa takut terhadap hantu tetapi tertular oleh orang-orang sekitarnya. Orangtua perlu memberikan pengertian soal makhluk-makhluk halus seperti hantu agar anak bisa melawan rasa takutnya.

"Sebenarnya anak kecil itu nggak kenal hantu. Kalau anak kecil menganggap hantu itu menyeramkan ya karena lingkungannya," jelas Muhammad Rizal, Psi dari Lembaga Terapan Psikologi UI ketika dihubungi detikHealth, Jumat (4/3/2011).

Menurut Rizal, anak kecil sebenarnya tidak mengenal konsep bahwa hantu itu menakutkan, tapi lingkunganlah yang menciptakan konsep tersebut.

Biasanya anak kecil akan takut hantu bila melihat orangtua atau orang-orang di sekitarnya ketakutan dan teriak-teriak saat menonton film atau iklan yang menunjukkan sosok hantu.

"Karena orangtuanya teriak-teriak lihat hantu, jadi anak membuat penilaian bahwa hantu itu menyeramkan, akhirnya dia juga takut," lanjut Rizal.

Rizal menuturkan sebaiknya orangtua memberi contoh perilaku yang benar dengan tidak menakuti atau menanamkan penilaian bahwa hantu itu menakutkan, karena pada dasarnya anak tidak takut dengan hantu.

"Gambar hantu itu kan sebenarnya netral, tapi karena sudah ada penilaian bahwa hantu itu seram jadi si anak takut. Jadi jangan dicontohkan bahwa hantu itu seram," jelas Rizal.

Untuk menanamkan stigma positif pada anak, lanjut Rizal, orangtua tidak hanya harus menjelaskan bahwa hantu itu seram tetapi juga mencontohkannya secara perilaku.

"Anak-anak itu belajar secara konkret. Kalau orangtuanya bilang hantu itu tidak menyeramkan tapi ternyata teriak-teriak pas nonton film hantu ya sama saja. Caranya jangan berlebihan kalau lihat sosok hantu di TV, jadi anak juga tidak tahu bahwa hantu itu seram," tambahnya.

Menaggapi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang meminta meninjau ulang iklan yang menunjukkan sosok hantu, Rizal menilai hal tersebut mungkin untuk menghindari orang-orang bersikap berlebihan terhadap sosok hantu.

Sementara Dawn Huebner, seorang psikolog dari Exeter, New Hampshire mengatakan jika seorang anak percaya adanya makhluk halus di tempat tidurnya, maka orangtua harus bisa menenangkannya seperti mengatakan, 'Itu karena dia ingin bermain bersama'. Saat anak sudah merasa sedikit tenang, orangtua bisa menjelaskan bahwa makhluk tersebut sebenarnya tidak ada dan tidak nyata.

Jika anak sudah bisa memahami perbedaan antara khayalan dan kenyataan, maka anak harus bisa mengatasi ketakutan tersebut dengan pikiran bahwa gambar yang menghantuinya adalah tidak nyata.

Orangtua bisa mengajari anak cara membedakan ketakutan di kepalanya dengan bahaya yang sebenarnya. Anak yang sudah bisa memahami konsep "false alarm" dapat membantunya memahami bahwa rasa takut tersebut tidak berarti ada ancaman dan dapat meyakinkan dirinya sendiri untuk menjadi lebih berani.

Jika anak belum bisa membedakan antara khayalan dengan kenyataan, maka orangtua bisa menggunakan strategi makhluk itu hanya ingin bermain dan cara ini terbilang cukup berhasil. "Ini bukan menekan pikiran negatif, tapi berusaha membingkai sesuatu menjadi sedikit lebih positif," ujar psikolog Liat Sayfan dan Kristin Hansen Lagattuta.

Hukuman dan Penghargaan yang Tepat Buat Anak

Jumat, 04/03/2011 16:07 WIB 

Hukuman dan Penghargaan yang Tepat Buat Anak

InspiredKids - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Jangan cuma memberikan hukuman pada anak, karena anak juga butuh penghargaan. Memberikan hukuman dan penghargaan kepada anak dipercaya akan membentuk jati diri mereka di masa depan.

Jika dilakukan dengan tepat, akan mengurangi frekuensi perilaku yang tidak diinginkan. Reward and Punishment atau penghargaan dan hukuman harus diberikan secara berimbang.

Penghargaan berupa pujian harus diberikan dengan tepat. Namun anak juga harus mengerti konsep: kalau benar dia mendapat penghargaan, sedang kalau salah dia harus mendapat teguran atau hukuman.

Penghargaan

Psikolog Laura Ramirez, dalam buku Walk In Peace, Jumat (4/3/2011) mengatakan anak berhak mendapatkan penghargaan atas perbuatan baik atau yang diharapkan baik.

Penghargaan ada yang bersifat materil (berupa benda atau makanan), sosial (dipuji, dipeluk, atau dicium) dan kesempatan lebih (nonton tv lebih lama, tidur dengan orang tua, atau rekreasi ke tempat yang diinginkannya). Dari semua itu, hadiah yang bersifat sosial yang paling praktis.

Namun, orang tua jangan asal memberi penghargaan. Penghargaan harus dibarengi pemberian tanggung jawab yang lebih kompleks.

Anak yang terlalu sering mendapat hadiah berisiko kehilangan motivasi untuk mencoba melakukan hal lain. Dalam jangka  panjang ia akan tumbuh menjadi pribadi manja, kurang tangguh, kurang kreatif, kurang memiliki rasa bersalah, dan kurang berprestasi.

Sebaliknya anak yang jarang menerima penghargaan tidak pernah tahu bahwa dirinya telah melakukan hal-hal yang positif. Dalam jangka panjang ia akan tumbuh dengan kurang percaya diri, depresif, sering kecewa, sulit berinteraksi, mudah sedih, dan sensitif.

Hukuman

Selain memberikan penghargaan, orangtua juga jangan lupa untuk menerapkan pemberian hukuman jika anak berbuat salah, melanggar aturan, atau menyalahi kesepakatan dengan orangtua.

Namun, orangtua juga sebaiknya ingat bahwa undang-undang perlindungan anak memberikan batasan dalam pemberian hukuman kepada anak. Jika orang tua terlalu keras menghukum, mereka dapat dituntut melanggar hak asasi anak.

Menurut Justine Mol penulis Growing Up in Trust hukuman yang paling tepat dan mudah adalah teguran dengan lembut. Beri contoh apa yang seharusnya dilakukan anak. Jadi anak tidak hanya merasa disalahkan, tapi juga diberitahu bagaimana seharusnya yang benar. Bentuk hukuman lain yang tepat adalah berupa timeout dan konsekuensi.

Psikolog Ike R. Sugianto, Psi mengatakan ada beberapa prinsip yang harus dipahami orangtua dalam memberikan penghargaan dan hukuman pada anak.

Penghargaan

  1. Berikan penghargaan jika aktivitas anak positif agar menjadi stimulusnya
  2. Sesuaikan dengan perjuangan yang dilakukan anak, jangan berlebihan
  3. Berikan hadiah atau penghargaan dengan penuh ketulusan dan bukan basa basi
  4. Setiap memberi hadiah yang bersifat materiil barengi dengan hadiah sosial

Hukuman

  1. Perhatikan kondisi psikologis anak agar anak tetap merasakan kasih sayang orangtuanya lewat hukuman
  2. Pahamilah bahwa hukuman bagi anak yang satu bisa jadi berbeda bagi anak yang lain
  3. Orangtua harus konsisten agar anak yakin dengan maksud hukuman
  4. Beri hukuman serealistis mungkin agar anak paham kesalahannya dan tidak punya standar ganda

Minggu, 16 Januari 2011

6 Cara Mudah Mengembangkan Otak Bayi

Sabtu, 15/01/2011 10:12 WIB

InspiredKids - detikHealth
<p>Your browser does not support iframes.</p>


img
(Foto: thinkstock)

 Jakarta, Tahukah Anda bahwa bagi bayi, orangtualah mainan terbaiknya? Interaksi orangtua dengan si kecil akan mengalahkan mainan mahal jenis apapun dalam menunjang perkembangan otaknya. Ada 6 cara mudah mengembangkan otak bayi.

Otak bayi mulai tumbuh dan berkembang sejak usia kandungan ibu menginjak delapan minggu. Susunan saraf pusat atau otak merupakan organ yang pertama kali terbentuk. Pada awalnya, sekitar hari ke-16 usia kehamilan, terbentuk lempeng saraf (neural plate) yang kemudian akan menggulung membentuk tabung saraf (neural tube) pada hari ke-22.

Selanjutnya, sel-sel saraf mulai diproduksi. Menginjak hari ke-35 (sekitar minggu kelima), cikal bakal otak besar di ujung tabung saraf mulai terlihat. Dari sini, lalu terbentuk batang otak, otak kecil, dan bagian-bagian lainnya. Mulai usia kehamilan delapan minggu, otak dan sel-sel saraf tumbuh dengan cepat dan mencapai puncaknya pada trimester ketiga.

Hal terpenting yang bisa orangtua lakukan untuk si kecil adalah menghabiskan banyak waktu bersama. Ini yang bisa dilakukan orangtua:


1. Tertawa
Dengan mengajak si kecil tertawa, orangtua akan belajar mengenali apa yang menurut dia lucu dan disukainya. Anak juga akan belajar apa yang membuat orangtuanya tertawa.

2. Berbicara

Ini adalah cara terbaik untuk mengasah kemampuan verbalnya.

3. Bernyanyi
Si kecil akan senang jika orangtua bernyanyi untuknya. Cara ini juga efektif untuk menambah perbendaharaan katanya.

4. Memeluk
Bayi membutuhkan pelukan untuk merasakan rasa sayang orangtuanya.

5. Membaca
Dengan membaca, orangtua membantu mengasah kemampuan verbalnya.

6. Bermain
Kegiatan ini dapat menumbuhkan rasa senang dan bahagia bersama antara anak dan orangtuanya.

Fakta atau Mitos?

Ketika lahir, otak bayi sudah berkembang sempurna, sama seperti jantung dan perutnya.
Jawabannya Mitos. Sel-sel otak memang terbentuk sebelum ia lahir tetapi sel-sel itu terkoneksi secara bertahap setelah lahir.

Perkembangan otak anak tergantung pada gen orangtua.

Jawabannya Mitos. Perkembangan otak anak dipengaruhi oleh pengalaman dan interaksi si kecil dengan lingkungannya. Kondisi lingkungan yang baik memiliki peranan lebih besar dalam memengaruhi masa depan anak ketimbang faktor genetik.

DVD bahasa justru dapat mengurangi kosakata anak-anak berusia di bawah tiga tahun.
Jawabannya Fakta. Menurut penulis buku Brain Rules: 12 Principles for Surviving and Thriving at Work, Home and School, Dr. John Medina, kosakata anak akan bertambah jika terus diajak bicara oleh ibunya dari waktu ke waktu. Kata-kata yang orangtua gunakan ketika berbicara dengan si kecil dapat meningkatkan kosakata dan tingkat intelegensinya.

Bayi tidak mengerti perkataan orangtuanya jadi tidak perlu mengajaknya berbincang.
Jawabannya Mitos. Justru dengan mengajaknya bicara sejak dini, orangtua membantu si kecil untuk belajar bicara.

(Baca artikel lainnya di http://www.inspiredkidsmagazine.com)


(ir/ir)