Powered By Blogger

Jumat, 04 Maret 2011

Tanda-tanda Bayi Kena Pneumonia

Kamis, 03/03/2011 12:53 WIB 

Tanda-tanda Bayi Kena Pneumonia

InspiredKids - detik health

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Karena mirip selesma (pilek), pneumonia pada bayi sering diabaikan orangtua. Padahal, dalam satu hari, dua juta orang meninggal dunia akibatpenyakit ini.

Ketua Umum IDAI Dr. Badriul Hegar, SpA(K) mengatakan pneumonia merupakan proses radang akut pada jaringan paru (alveoli) akibat infeksi kuman yang menyebabkan gangguan pernapasan.

"Mungkin karena gejalanya mirip selesma biasa, dan tidak ada efek dramatis, seperti langsung meninggal atau cacat, maka orang sering mengabaikan penyakit ini. Padahal, penyakit ini berbahaya karena dapat menyebabkan kematian pada anak akibat paru-paru tidak dapat menjalankan fungsinya untuk mendapatkan oksigen bagi tubuh. Hal inilah yang masih banyak belum dipahami para orangtua," ujar Dr. Darmawan Budi Setyanto, SpA(K), Kepala UKK Respiroksi PD-IDAI seperti ditulis, Kamis (3/3/2011).

Kekurangpahaman ini, menurut Budi, harus dibayar mahal. Pneumonia, menurut WHO, merupakan penyebab kematian tunggal pada anak, terbesar di seluruh dunia. Hingga saat ini, pneumonia membunuh hampir dua juta balita, atau sekitar 20% dari seluruh kematian balita di seluruh dunia.

"Angka ini lebih tinggi dari kematian akibat AIDS, malaria, dan campak, jika digabungkan. Setiap tahun, terjadi 155 juta kasus pneumonia di seluruh dunia. Indonesia, merupakan negara dengan tingkat kejadian pneumonia tertinggi ke-6 di seluruh dunia," jelasnya.

Balita Paling Rentan

Menurut Budi, pneumonia disebabkan oleh kuman, bisa berupa bakteri atau virus, yang mencapai paru-paru melalui beberapa rute. Pertama, kuman di udara kotor terhirup melalui hidung dan tenggorokan sampai ke paru dan terjadi infeksi. Kedua, menyebar melalui darah.

Bayi baru lahir merupakan kelompok paling rawan yang rentan tertular pneumonia dari ibunya melalui jalan lahirnya saat proses persalinan. Selain bayi, anak-anak dengan sistem imunitas yang rendah juga termasuk kelompok yang rawan terkena pneumonia.

"Balita yang tidak menerima ASI eksklusif, akan kekurangan zat seng. Begitu juga dengan penderita AIDS atau campak, memiliki risiko pneumonia tinggi,” tambah Budi.

Anak-anak yang tinggal di pemukiman yang kumuh, miskin, padat, jorok, dan kotor, juga termasuk kelompok yang beresiko lebih tinggi terkena pneumonia, dibanding kelompok di atas.

"Tempat tinggal mereka itu sangat tinggi polusi serta pajanan asap rokok dan sisa pembakaran," ujar Hegar.

Kenali Gejalanya

Gejala pneumonia pada anak bermacam-macam, tergantung usia dan penyebabnya:

1. Biasanya didahului gejala selesma berupa demam yang disertai batuk dan pilek, sakit kepala, dan hilang nafsu makan.

2. Pada perkembangan selanjutnya, akan timbul 2 gejala penting pneumonia, yaitu napas cepat dan sesak napas.

3. Jika usia anak kurang dari 2 bulan, napasnya lebih cepat dari 60 kali per menit. Jika usianya 2-12 bulan, napasnya lebih cepat dari 50 kali per menit. Sedangkan jika usianya 1-5 tahun, napasnya lebih cepat dari 40 kali per menit.

4. Untuk kategori sesak napas, ditandai dengan napas pendek, hidung kembang kempis.

5. Pada kasus pneumonia berat, terlihat adanya tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam (TDDK), kejang, penurunan kesadaran dan suhu tubuh.

"Orangtua bisa melakukan penghitungam napas ini di rumah, untuk penentuan awal apakah anaknya mengalami napas cepat atau tidak. Jika memang benar, segera larikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Jika tidak, bisa fatal akibatnya," ujar Budi.

Tidak Selalu Dirawat

Orangtua sebenarnya tidak perlu khawatir membawa anaknya yang sakit pneumonia ke dokter atau rumah sakit. Tidak semua anak dengan peneumonia perlu dirawat di rumah sakit. Jika masih tergolong ringan, anak bisa dirawat oleh keluarganya di rumah.

Cukup dengan pemberian obat antibiotik pilihan dengan dosis tepat dan teratur, dalam 1-2 minggu anak bisa sembuh total, tergantung imunitasnya.

Jika pengobatannya tidak optimal, maka efek jangka panjangnya adalah terjadinya kerusakan organ-organ di paru-paru. Namun, jika gejalanya memburuk maka orangtua harus segera membawa anak kembali ke rumah sakit.

"Tapi anak di bawah 2 tahun yang terkena pneumonia harus dirujuk ke rumah sakit karena berisiko tinggi untuk berkembang menjadi penyakit berat, bahkan kematian," ujar Budi.

Tips mencegah penumonia:
  1. Berikan ASI secara ekslusif kepada bayi selama 6 bulan
  2. Penuhi asupan gizi bayi dan balita, terutama vitamin A dan mineral seng (zinc)
  3. Berikan imunisasi lengkap pada anak, yaitu DPT (untuk mencegah terjadinya batuk rejan/100 hari/pertusis) dan campak (untuk kekebalan terhadap pneumonia dengan mencegah virus campak masuk ke paru-paru), influensa, Hib, dan pneumokokus (agar kebal dari kuman pneumonia).
  4. Jaga kebersihan lingkungan tempat tinggal dari polusi udara, seperti asap rokok,pembakaran sampah, dan kendaraan.

Ajari Anak Melawan Rasa Takut Hantu

Jumat, 04/03/2011 10:39 WIB 

Ajari Anak Melawan Rasa Takut Hantu

Merry Wahyuningsih - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Anak sebenarnya tidak punya rasa takut terhadap hantu tetapi tertular oleh orang-orang sekitarnya. Orangtua perlu memberikan pengertian soal makhluk-makhluk halus seperti hantu agar anak bisa melawan rasa takutnya.

"Sebenarnya anak kecil itu nggak kenal hantu. Kalau anak kecil menganggap hantu itu menyeramkan ya karena lingkungannya," jelas Muhammad Rizal, Psi dari Lembaga Terapan Psikologi UI ketika dihubungi detikHealth, Jumat (4/3/2011).

Menurut Rizal, anak kecil sebenarnya tidak mengenal konsep bahwa hantu itu menakutkan, tapi lingkunganlah yang menciptakan konsep tersebut.

Biasanya anak kecil akan takut hantu bila melihat orangtua atau orang-orang di sekitarnya ketakutan dan teriak-teriak saat menonton film atau iklan yang menunjukkan sosok hantu.

"Karena orangtuanya teriak-teriak lihat hantu, jadi anak membuat penilaian bahwa hantu itu menyeramkan, akhirnya dia juga takut," lanjut Rizal.

Rizal menuturkan sebaiknya orangtua memberi contoh perilaku yang benar dengan tidak menakuti atau menanamkan penilaian bahwa hantu itu menakutkan, karena pada dasarnya anak tidak takut dengan hantu.

"Gambar hantu itu kan sebenarnya netral, tapi karena sudah ada penilaian bahwa hantu itu seram jadi si anak takut. Jadi jangan dicontohkan bahwa hantu itu seram," jelas Rizal.

Untuk menanamkan stigma positif pada anak, lanjut Rizal, orangtua tidak hanya harus menjelaskan bahwa hantu itu seram tetapi juga mencontohkannya secara perilaku.

"Anak-anak itu belajar secara konkret. Kalau orangtuanya bilang hantu itu tidak menyeramkan tapi ternyata teriak-teriak pas nonton film hantu ya sama saja. Caranya jangan berlebihan kalau lihat sosok hantu di TV, jadi anak juga tidak tahu bahwa hantu itu seram," tambahnya.

Menaggapi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang meminta meninjau ulang iklan yang menunjukkan sosok hantu, Rizal menilai hal tersebut mungkin untuk menghindari orang-orang bersikap berlebihan terhadap sosok hantu.

Sementara Dawn Huebner, seorang psikolog dari Exeter, New Hampshire mengatakan jika seorang anak percaya adanya makhluk halus di tempat tidurnya, maka orangtua harus bisa menenangkannya seperti mengatakan, 'Itu karena dia ingin bermain bersama'. Saat anak sudah merasa sedikit tenang, orangtua bisa menjelaskan bahwa makhluk tersebut sebenarnya tidak ada dan tidak nyata.

Jika anak sudah bisa memahami perbedaan antara khayalan dan kenyataan, maka anak harus bisa mengatasi ketakutan tersebut dengan pikiran bahwa gambar yang menghantuinya adalah tidak nyata.

Orangtua bisa mengajari anak cara membedakan ketakutan di kepalanya dengan bahaya yang sebenarnya. Anak yang sudah bisa memahami konsep "false alarm" dapat membantunya memahami bahwa rasa takut tersebut tidak berarti ada ancaman dan dapat meyakinkan dirinya sendiri untuk menjadi lebih berani.

Jika anak belum bisa membedakan antara khayalan dengan kenyataan, maka orangtua bisa menggunakan strategi makhluk itu hanya ingin bermain dan cara ini terbilang cukup berhasil. "Ini bukan menekan pikiran negatif, tapi berusaha membingkai sesuatu menjadi sedikit lebih positif," ujar psikolog Liat Sayfan dan Kristin Hansen Lagattuta.

Hukuman dan Penghargaan yang Tepat Buat Anak

Jumat, 04/03/2011 16:07 WIB 

Hukuman dan Penghargaan yang Tepat Buat Anak

InspiredKids - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Jangan cuma memberikan hukuman pada anak, karena anak juga butuh penghargaan. Memberikan hukuman dan penghargaan kepada anak dipercaya akan membentuk jati diri mereka di masa depan.

Jika dilakukan dengan tepat, akan mengurangi frekuensi perilaku yang tidak diinginkan. Reward and Punishment atau penghargaan dan hukuman harus diberikan secara berimbang.

Penghargaan berupa pujian harus diberikan dengan tepat. Namun anak juga harus mengerti konsep: kalau benar dia mendapat penghargaan, sedang kalau salah dia harus mendapat teguran atau hukuman.

Penghargaan

Psikolog Laura Ramirez, dalam buku Walk In Peace, Jumat (4/3/2011) mengatakan anak berhak mendapatkan penghargaan atas perbuatan baik atau yang diharapkan baik.

Penghargaan ada yang bersifat materil (berupa benda atau makanan), sosial (dipuji, dipeluk, atau dicium) dan kesempatan lebih (nonton tv lebih lama, tidur dengan orang tua, atau rekreasi ke tempat yang diinginkannya). Dari semua itu, hadiah yang bersifat sosial yang paling praktis.

Namun, orang tua jangan asal memberi penghargaan. Penghargaan harus dibarengi pemberian tanggung jawab yang lebih kompleks.

Anak yang terlalu sering mendapat hadiah berisiko kehilangan motivasi untuk mencoba melakukan hal lain. Dalam jangka  panjang ia akan tumbuh menjadi pribadi manja, kurang tangguh, kurang kreatif, kurang memiliki rasa bersalah, dan kurang berprestasi.

Sebaliknya anak yang jarang menerima penghargaan tidak pernah tahu bahwa dirinya telah melakukan hal-hal yang positif. Dalam jangka panjang ia akan tumbuh dengan kurang percaya diri, depresif, sering kecewa, sulit berinteraksi, mudah sedih, dan sensitif.

Hukuman

Selain memberikan penghargaan, orangtua juga jangan lupa untuk menerapkan pemberian hukuman jika anak berbuat salah, melanggar aturan, atau menyalahi kesepakatan dengan orangtua.

Namun, orangtua juga sebaiknya ingat bahwa undang-undang perlindungan anak memberikan batasan dalam pemberian hukuman kepada anak. Jika orang tua terlalu keras menghukum, mereka dapat dituntut melanggar hak asasi anak.

Menurut Justine Mol penulis Growing Up in Trust hukuman yang paling tepat dan mudah adalah teguran dengan lembut. Beri contoh apa yang seharusnya dilakukan anak. Jadi anak tidak hanya merasa disalahkan, tapi juga diberitahu bagaimana seharusnya yang benar. Bentuk hukuman lain yang tepat adalah berupa timeout dan konsekuensi.

Psikolog Ike R. Sugianto, Psi mengatakan ada beberapa prinsip yang harus dipahami orangtua dalam memberikan penghargaan dan hukuman pada anak.

Penghargaan

  1. Berikan penghargaan jika aktivitas anak positif agar menjadi stimulusnya
  2. Sesuaikan dengan perjuangan yang dilakukan anak, jangan berlebihan
  3. Berikan hadiah atau penghargaan dengan penuh ketulusan dan bukan basa basi
  4. Setiap memberi hadiah yang bersifat materiil barengi dengan hadiah sosial

Hukuman

  1. Perhatikan kondisi psikologis anak agar anak tetap merasakan kasih sayang orangtuanya lewat hukuman
  2. Pahamilah bahwa hukuman bagi anak yang satu bisa jadi berbeda bagi anak yang lain
  3. Orangtua harus konsisten agar anak yakin dengan maksud hukuman
  4. Beri hukuman serealistis mungkin agar anak paham kesalahannya dan tidak punya standar ganda

Minggu, 16 Januari 2011

6 Cara Mudah Mengembangkan Otak Bayi

Sabtu, 15/01/2011 10:12 WIB

InspiredKids - detikHealth
<p>Your browser does not support iframes.</p>


img
(Foto: thinkstock)

 Jakarta, Tahukah Anda bahwa bagi bayi, orangtualah mainan terbaiknya? Interaksi orangtua dengan si kecil akan mengalahkan mainan mahal jenis apapun dalam menunjang perkembangan otaknya. Ada 6 cara mudah mengembangkan otak bayi.

Otak bayi mulai tumbuh dan berkembang sejak usia kandungan ibu menginjak delapan minggu. Susunan saraf pusat atau otak merupakan organ yang pertama kali terbentuk. Pada awalnya, sekitar hari ke-16 usia kehamilan, terbentuk lempeng saraf (neural plate) yang kemudian akan menggulung membentuk tabung saraf (neural tube) pada hari ke-22.

Selanjutnya, sel-sel saraf mulai diproduksi. Menginjak hari ke-35 (sekitar minggu kelima), cikal bakal otak besar di ujung tabung saraf mulai terlihat. Dari sini, lalu terbentuk batang otak, otak kecil, dan bagian-bagian lainnya. Mulai usia kehamilan delapan minggu, otak dan sel-sel saraf tumbuh dengan cepat dan mencapai puncaknya pada trimester ketiga.

Hal terpenting yang bisa orangtua lakukan untuk si kecil adalah menghabiskan banyak waktu bersama. Ini yang bisa dilakukan orangtua:


1. Tertawa
Dengan mengajak si kecil tertawa, orangtua akan belajar mengenali apa yang menurut dia lucu dan disukainya. Anak juga akan belajar apa yang membuat orangtuanya tertawa.

2. Berbicara

Ini adalah cara terbaik untuk mengasah kemampuan verbalnya.

3. Bernyanyi
Si kecil akan senang jika orangtua bernyanyi untuknya. Cara ini juga efektif untuk menambah perbendaharaan katanya.

4. Memeluk
Bayi membutuhkan pelukan untuk merasakan rasa sayang orangtuanya.

5. Membaca
Dengan membaca, orangtua membantu mengasah kemampuan verbalnya.

6. Bermain
Kegiatan ini dapat menumbuhkan rasa senang dan bahagia bersama antara anak dan orangtuanya.

Fakta atau Mitos?

Ketika lahir, otak bayi sudah berkembang sempurna, sama seperti jantung dan perutnya.
Jawabannya Mitos. Sel-sel otak memang terbentuk sebelum ia lahir tetapi sel-sel itu terkoneksi secara bertahap setelah lahir.

Perkembangan otak anak tergantung pada gen orangtua.

Jawabannya Mitos. Perkembangan otak anak dipengaruhi oleh pengalaman dan interaksi si kecil dengan lingkungannya. Kondisi lingkungan yang baik memiliki peranan lebih besar dalam memengaruhi masa depan anak ketimbang faktor genetik.

DVD bahasa justru dapat mengurangi kosakata anak-anak berusia di bawah tiga tahun.
Jawabannya Fakta. Menurut penulis buku Brain Rules: 12 Principles for Surviving and Thriving at Work, Home and School, Dr. John Medina, kosakata anak akan bertambah jika terus diajak bicara oleh ibunya dari waktu ke waktu. Kata-kata yang orangtua gunakan ketika berbicara dengan si kecil dapat meningkatkan kosakata dan tingkat intelegensinya.

Bayi tidak mengerti perkataan orangtuanya jadi tidak perlu mengajaknya berbincang.
Jawabannya Mitos. Justru dengan mengajaknya bicara sejak dini, orangtua membantu si kecil untuk belajar bicara.

(Baca artikel lainnya di http://www.inspiredkidsmagazine.com)


(ir/ir)

Jumat, 14 Januari 2011

Tertawa Tingkatkan Keberhasilan Bayi Tabung

Selasa, 11/01/2011 17:16 WIB

Vera Farah Bararah - detikHealth
<p>Your browser does not support iframes.</p>


img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Beberapa pasangan yang sedang mencoba untuk hamil kadang mengalami kegagalan saat melakukan proses bayi tabung. Tapi studi mengungkapkan keberhasilan bayi tabung bisa meningkat dengan tertawa.

Studi terbaru menunjukkan memberikan lelucon atau trik sulap lucu dengan segara selama 15 menit setelah perawatan kesuburan bisa meningkatkan hampir 2 kali lipat kemungkinan untuk hamil.

Seorang ahli kesuburan (fertilitas) dan juga seniman pantomim percaya bahwa dosis tertawa bisa membantu menjauhkan dan menghilangkan stres, sehingga membuat kehamilan menjadi lebih mungkin terjadi.

Dalam studi ini, Profesor Shevach Friedler melacak kesuksesan lebih dari 200 perempuan yang menjalani perawatan kesuburan di kliniknya di Israel. Semua peserta melakukan teknik bayi tabung (in vitro fertilisation/IVF) seperti biasa, tapi setelah embrio ditanamkan dalam diri pasien, setengah partisipan disuguhi 'badut medis' selama 15 menit.

Badut medis ini tidak menggunakan hidung merah, melainkan dengan seragam koki dan menceritakan lelucon seputar makanan. Selain itu ia juga melakukan trik sulap yang bisa membuat seseorang tertawa.

Berdasarkan penelitian ini diketahui sebesar 36,4 persen perempuan yang mendapatkan hiburan badut dan sulap berhasil hamil, sedangkan kelompok yang tidak mendapat hiburan hanya sebesar 20,2 persen yang berhasil hamil. Hasil studi ini dilaporkan dalam jurnal American Society for Reproductive Medicine.

"Saya percaya hiburan di samping tempat tidur akan membuat perempuan santai dan terbebas dari rasa stres akibat proses IVF yang melelahkan," ujar Profesor Friedler, seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (11/1/2011).

Kegagalan proses penanaman embrio tergantung pada kemampuan rahim menangkap embrio. Selain itu ada juga beberapa faktor lain yang membuat teknik bayi tabung gagal mencapai kehamilan. Kegagalan ini kadang membuat pasangan harus mengulanginya kembali dan membutuhkan biaya yang lebih besar.


(ver/ir)

Agar si Kecil Tak Takut Jarum Suntik

Rabu, 12/01/2011 15:50 WIB

Vera Farah Bararah - detikHealth
<p>Your browser does not support iframes.</p>


img
(Foto: thinkstock)

Jakarta, Beberapa imunisasi masih menggunakan jarum suntik yang kadang menimbulkan ketakutan atau trauma tersendiri bagi anak. Karenanya orangtua harus membantu si kecil agar tak takut dengan jarum.

Orangtua sebaiknya memberikan penjelasan pada anak secara medis dan juga psikologis. Dalam hal ini anak harus mengerti bahwa suntikan bukan berniat untuk menyakiti anak, tapi untuk membuatnya menjadi lebih sehat.

Pengalaman pertama disuntik tentu sangat tidak menyenangkan karena menimbulkan rasa sakit, kondisi ini membuat anak berpikir bahwa jarum identik dengan rasa sakit sehingga anak-anak akan selalu berpikir bahwa jarum suntik adalah alat yang menyakitkan.

Imunisasi dilakukan untuk membangun sistem kekebalan tubuh anak terhadap suatu penyakit. Hal ini karena saat imunisasi anak akan dimasukkan produk biologis tertentu ke dalam tubuh, sehingga jika anak terserang penyakit tersebut ia sudah mampu untuk melawannya.

Sebagian besar vaksin dalam bentuk suntik karena diharapkan bisa cepat masuk sistem sirkulasi darah, sehingga akan muncul reaksi dengan sel darah putih untuk membuat zat antibodi.

Saat ini sudah ada vaksin kombinasi yang terdiri dari beberapa vaksin, dengan begitu bisa mengurangi jumlah suntikan yang harus diterima oleh anak. Vaksinasi yang diberikan diantaranya BCG untuk penyakit TBC, vaksin polio, hepatitis, campak, DPT dan vaksin lainnya.

Seperti dikutip dari Babycenter, Rabu (12/1/2011) jika bayi masih menyusui, maka ibu bisa langsung menyusui sang bayi setelah disuntik untuk menenangkannya. Menyusui merupakan pereda nyeri yang kuat, karena merupakan kegiatan gabungan antara memeluk, kontak kulit, mengisap dan rasa manis dari ASI yang menjadi obat penawar menyenangkan dari rasa shock dan sakit akibat jarum.

Jika anak sudah besar atau sudah tidak menyusui, cobalah untuk mengalihkan perhatiannya segera setelah disuntik, misalnya dengan mengajaknya berbicara, bernyanyi atau memberinya mainan.

Untuk mencegah trauma jarum suntik pada anak, sebaiknya orangtua tidak perlu menakut-nakuti atau terus menerus membicarakan tentang imunisasi yang bisa membuat anak memikirkan hal-hal menyeramkan.

Orangtua bisa memberikan ketenangan menjelang disuntik dengan cara membuatnya merasa nyaman, senang, memegang tangannya dan mengajaknya berbicara tentang berbagai hal. Setelah anak disuntik berilah ia pujian bahwa ia telah menjadi anak yang pemberani dan ia sudah menjadi anak yang sehat. Karenanya orangtua memegang peranan penting untuk membantu si kecil agar tidak takut atau trauma dengan jarum suntik
(ver/ir)

Kapan si Kecil Siap Lepas dari Popok?

Kamis, 13/01/2011 12:46 WIB

Vera Farah Bararah - detikHealth
<p>Your browser does not support iframes.</p>


img
(Foto: thinkstock)
 
Jakarta, Sebagian besar anak yang belum bisa berlatih buang air kecil atau besar di toilet masih mengandalkan popok. Kapan si kecil bisa mulai lepas atau tidak menggunakan popok lagi?

Popok sekali pakai yang digunakan oleh balita memang bisa mempermudah hidup orangtua atau pengasuhnya karena membuatnya tidak repot harus selalu mencuci celana dan membuat rumahnya tetap bersih. Tapi kondisi ini sebaiknya tidak terus menerus terjadi karena tidak akan membantu balita membangun kesadarannya terhadap kebutuhan menggunakan toilet.

Seperti dikutip dari buku Your Baby Month by Month karangan Su Laurent dan Peter Reader yang diterbitkan Esensi, Kamis (13/1/2011) perkembangan balita untuk BAK (buang air kecil) atau BAB (buang air besar) di kamar mandi beragam karenanya tidak ada angka pasti mengenai kapan usia yang tepat.

Tapi orangtua bisa mulai melatihnya saat anak berusia 18-30 bulan, dan sebagian besar anak sudah lepas popoknya saat berusia 3 tahun.

Untuk mengetahui apakah si kecil sudah siap atau belum untuk melepas popok, lihatlah beberapa tanda yang menunjukkan kesiapan anak yaitu:
  1. Anak memberitahu orangtua atau pengasuhnya jika popok yang digunakan basah atau kotor.
  2. Anak menunjukkan ketertarikan ketika menggunakan kamar mandi.
  3. Anak memiliki kesadaran untuk buang air kecil atau buang air besar.

Jika anak sudah menunjukkan tanda tersebut, maka peran orangtua adalah memberikan dorongan psikologis pada anak dan jangan membuat anak merasa bersalah jika anak gagal mengontrol kandung kemih dan sistem pelepasannya. Karena rasa bersalah tersebut bisa membuat perkembangan proses ini semakin lama, untuk itu berilah si kecil waktu belajar.

Untuk awalnya orangtua bisa memulai dari pagi hingga sore hari, latihlah anak untuk mengucapkan atau memberitahu orangtuanya jika ingin pipis atau sakit perut. Pada tahap-tahap awal pembelajaran, sebaiknya tetap gunakan popok celana jika ingin bepergian dan tidur sampai balita benar-benar bisa mengontrol pipis dan BAB-nya.

Dalam proses melepaskan popok, ada beberapa hal yang sebaiknya tidak dilakukan orangtua pada balitanya yaitu:
  1. Memarahi balita karena ia mengompol atau pipis sembarangan dan tidak memberitahu orangtuanya.
  2. Melepaskan popok saat malam hari di awal-awal proses pembelajaran, karena banyak balita yang belum siap untuk berhenti menggunakan popok sewaktu tidur.
  3. Memaksa anak untuk langsung bisa pipis atau BAK di kamar mandi, karena proses ini butuh pembelajaran dan orangtua harus meluangkan waktu untuk mengajarinya.


(ver/ir)