Powered By Blogger

Sabtu, 28 Mei 2011

Mitos Berat Badan Usai Melahirkan

Rabu, 25/05/2011 13:47 WIB 

Mitos Berat Badan Usai Melahirkan

Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Setiap perempuan yang baru saja melahirkan pasti ingin tubuhnya kembali ke bentuk semula. Ada beberapa mitos tentang berat badan setelah melahirkan yang dipercaya banyak perempuan usai melahirkan padahal itu keliru.

Peneliti telah menemukan bahwa kehamilan menjadi salah satu penyebab utama kenaikan berat badan pada perempuan. Hal ini telah diteliti secara ilmiah selama dua dekade terakhir. Tapi bukan berarti seorang perempuan tidak akan gemuk jika ia tidak hamil, karena banyak faktor lain yang bisa mempengaruhinya.

Saat hamil hampir semua bagian tubuh mengalami perubahan, seperti volume darah yang meningkat setidaknya sebesar 15 persen, rahim yang terus membesar untuk menunjang pertumbuhan janin akan membuat otot perut berubah serta penumpukan lemak di beberapa bagian tubuh.

Berikut ini adalah beberapa mitos yang umum seputar berat badan ibu setelah melahirkan, seperti dikutip dari Livestrong, Rabu (25/5/2011) yaitu:

1. 'Jika saya melahirkan melakui operasi caesar, maka dokter bisa sekaligus memotong lemak berlebih di tubuh'
Jenis sayatan untuk bedah caesar bukan seperti pemotongan otot. Karenanya dinding perut tidak berubah kecuali hanya mengalami pembengkakan. Setelah sembuh maka kontur perut akan tetap sama.

2. 'Saya bisa makan dan minum apa saja setelah melahirkan'
Jika ibu menyusui dan memberikan ASI eksklusif pada bayinya, maka ia tidak bisa makan dan minum secara sembarangan. Karena apapun yang dikonsumsinya bisa mempengaruhi susu yang dihasilkan.

3. 'Saya bisa mendapatkan perut rata jika saya melakukan treadmill'
Otot-otot rektus yang menjadi tempat dari perut six-pack akan keluar selama kehamilan dan persalinan. Ketika seseorang telah memiliki bayi maka bentuknya akan seperti diamond atau tonjolan. Karena itu tidak bisa mendapatkan perut rata dengan melakukan treadmill, tapi butuh waktu tertentu untuk membuatnya kembali normal.

Biarkan tubuh melakukannya sendiri, karena seperti pada otot panggul akan mengalami trauma selama hamil dan melahirkan, sehingga butuh waktu sedikitnya 6 minggu dalam proses penyembuhannya.

Karenanya diperlukan kesabaran agar bisa mendapatkan bentuk badan seperti sebelum hamil atau justru lebih baik. Untuk itu lawanlah dorongan untuk segera melakukan fitnes di pusat kebugaran.

(ver/ir

Tanda-tanda Otak Bayi Ada yang Tidak Beres

Rabu, 25/05/2011 14:44 WIB 

Tanda-tanda Otak Bayi Ada yang Tidak Beres

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth


img
foto: Thinkstock
Jakarta, Risiko gangguan mental dan perkembangan otak bayi paling akurat jika dideteksi melalui skrining hormon. Namun secara kasat mata, beberapa perilaku selama proses tumbuh kembang bayi juga bisa dipakai untuk mendeteksi gangguan tersebut.

Dimulai sejak baru lahir, kondisi otak dikatakan relatif normal jika bayi tersebut langsung menangis. Jika tidak menangis, ada kemungkinan bayi tersebut kekurangan suplai oksigen di otaknya akibat berbagai hal yang bisa mempengaruhi perkembangan otak.

Kondisi lain yang perlu diwaspadai adalah kuning memanjang, atau penyakit kuning yang tidak sembuh hingga lebih dari 20 hari. Bayi yang mengalami kondisi seperti ini berisiko mengalami gangguan pada fungsi otak, sehingga membutuhkan intervensi pengobatan.

Bayi lahir prematur dengan berat badan di bawah 2.500 gram juga berisiko mengalami gangguan perkembangan otak. Tiap tahun, kondisi berat badan kurang diperkirakan terjadi pada 550 ribu bayi di Indonesia atau 11,5 persen dari 5 juta angka kelahiran dalam setahun.

"Perkembangan otak pada bayi baru lahir normalnya baru 42 persen, lalu pada usia sekitar 6 tahun sudah akan mencapai 98 persen. Kita menyebut 6 tahun pertama sebagai golden period sehingga harus dioptimalkan," ungkap Ketua Satgas Perlindungan Anak Ikatan Dokter Indonesia, Dr dr Tb Rachmat Sentika, SpA, MARS usai seminar Skrining Bayi Baru Lahir untuk Mencegah Keterbelakangan Mental di Hotel Twin Plaza, Jl Jend S Parman, Jakarta Pusat, Rabu (25/5/2011).

Dr Rachmat menambahkan, gangguan perkembangan otak pada bayi juga bisa dipengaruhi oleh kondisi hormon terutama tiroid. Kekurangan hormon tiroid memicu Hipotiroid Kongenital, yang jika terlambat mendapat pengobatan bisa mengakibatkan retardasi atau keterbelakangan mental.

Pemeriksaan hormon tiroid hingga saat ini belum diwajibkan oleh pemerintah, namun Dr Rachmat menilai skrining tersebut sangat penting untuk dilakukan. Hipotiroid Kongenital seringkali baru menampakkan gejala ketika sudah terlambat, yakni setelah bayi berusia 3 bulan.

Gejala Hipotiroid yang tidak tertangani antara lain sebagai berikut:


  1. Lidah membesar (makroglosia)
  2. Sakit kuning berkepanjangan (lebih dari 20 hari)
  3. Pusar bodong (hernia umbilical)
  4. Berat badan dan tinggi badan kurang.

Lebih lanjut Dr Rachmat menambahkan, gangguan perkembangan otak yang bukan dipicu oleh Hipotiroid Kongenital bisa juga diamati dari beberapa indikator sebagai berikut.

1. Kemampuan motorik kasar
Normalnya bayi mulai bisa menegakkan leher di usia 3 bulan, duduk usia 6 bulan, berdiri usia 9 bulan dan berjalan usia 1 tahun. Jika bayi mengalami keterlambatan pada perkembagan kemampuan motorik kasar ini, perlu diwaspadai adanya gangguan pada otaknya.

2. Kemampuan motorik halus
Ditandai dengan gerakan memegang-megang bagian ujung pada telapak tangan di usia 3 bulan, perlahan-lahan mulai bisa memegang daerah yang lebih sempit yakni ujung jari. Kemampuan ini bisa dirangsang atau dipacu dengan Alat Permainan Edukatif (APE).

3. Kemampuan melihat
Bayi harus sudah bisa melihat pada usia 4 bulan. Cara memeriksanya dengan "Ci Luk Ba" yakni memberikan rangsang visual untuk mengajaknya bercanda. Jika bayi tidak memberikan respons tertentu misalnya tersenyum atau tertawa, maka kemungkinan ada gangguan pada otak bayi yang menghambat kemampuannya untuk melihat.

4. Kemampuan mendengar
Normalnya sejak usia 6 bulan dalam kandungan, bayi sudah punya kemampuan untuk mendengar. Karena itu saat bayi baru lahir, perlu dilakukan tes Refleks Moro yakni dengan menepukkan tangan di dekat telinga bayi. Jika bayi tidak menunjukkan refleks mengedipkan mata, perlu diwaspadai adanya gangguan pada perkembagan otaknya.

Kamis, 19 Mei 2011

Yang Mempengaruhi Bentuk Kepala Bayi

Rabu, 18/05/2011 12:34 WIB 

Yang Mempengaruhi Bentuk Kepala Bayi

Vera Farah Bararah - detikHealth


img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Orangtua seringkali mendengar bahwa posisi tidur tertentu bisa membuat bentuk kepala bayi menjadi tidak normal. Beberapa hal memang diketahui bisa mempengaruhi bentuk kepala bayi.

Kebanyakan bayi yang baru lahir memiliki bentuk kepala lonjong atau tidak rata terutama jika dilahirkan secara normal karena harus melewati jalan lahir. Dalam kasus lain kadang terjadi perubahan bentuk kepala akibat terlalu banyak menghabiskan waktu di satu posisi.

Di kepala bayi akan terlihat ada area lembut di bagian atas yang mana tulang tengkorak belum tumbuh secara bersama-sama. Daerah ini disebut dengan fontanels (ubun-ubun) yang membantu bayi melalui jalan lahir sempit. Fontanels ini akan mengeras secara alami ketika berusia 6-20 bulan.

Ukuran kepala bayi akan terus tumbuh seiring dengan bertambahnya volume otak. Tapi karena tulang tengkorak bayi masih mudah dibentuk, maka terlalu banyak menghabiskan waktu dalam satu posisi yang sama bisa mengakibatkan perubahan bentuk kepala bayi, seperti dikutip dari Mayoclinic, Rabu (18/5/2011).

Sebelum daerah fontanels tersebut mengeras, maka bentuk kepala bayi masih bisa berubah-ubah, salah satu caranya adalah dengan mengubah posisi bayi seperti saat ia sedang tidur.

Bentuk kepala bayi yang paling umum adalah molding yaitu terlihat agak lonjong jika dilihat dari atas, tapi jika dilihat dari belakang lebih datar pada satu sisi dan telinga pada sisi datar tersebut mungkin terlihat seperti maju ke depan.

Bentuk kepala ini paling sering terjadi pada bayi yang menghabiskan sebagian besar waktunya terlentang di tempat tidur, kursi mobil atau kursi bayi. Meski begitu ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjaga bentuk kepala bayi yaitu:

  1. Mengubah arah, jika bayi sering tidur dengan posisi kepala miring ke kiri maka ubahlah ia menghadap kanan, jika perlu berikan ganjal di punggungnya agar lebih stabil posisinya.
  2. Memegang kepala bayi, ketika bayi sedang terjaga cobalah untuk memegang kepalanya agar bisa membantu mengurangi tekanan serta peganglah kepala bayi saat ia sedang makan.
  3. Cobalah sesekali menengkurapkan bayi, tempatkan bayi dalam posisi tengkurap saat bermain atau tidur tapi dengan pengawasan yang ketat terutama jika bayi belum cukup kuat menahan berat kepalanya.
  4. Cobalah menjadi kreatif sehingga memberikan bayi sudut pandang baru dan tidak terpaku pada satu sisi, misalnya dengan memberikan rangsangan berupa suara atau mainan tertentu.