Powered By Blogger

Minggu, 16 Januari 2011

6 Cara Mudah Mengembangkan Otak Bayi

Sabtu, 15/01/2011 10:12 WIB

InspiredKids - detikHealth
<p>Your browser does not support iframes.</p>


img
(Foto: thinkstock)

 Jakarta, Tahukah Anda bahwa bagi bayi, orangtualah mainan terbaiknya? Interaksi orangtua dengan si kecil akan mengalahkan mainan mahal jenis apapun dalam menunjang perkembangan otaknya. Ada 6 cara mudah mengembangkan otak bayi.

Otak bayi mulai tumbuh dan berkembang sejak usia kandungan ibu menginjak delapan minggu. Susunan saraf pusat atau otak merupakan organ yang pertama kali terbentuk. Pada awalnya, sekitar hari ke-16 usia kehamilan, terbentuk lempeng saraf (neural plate) yang kemudian akan menggulung membentuk tabung saraf (neural tube) pada hari ke-22.

Selanjutnya, sel-sel saraf mulai diproduksi. Menginjak hari ke-35 (sekitar minggu kelima), cikal bakal otak besar di ujung tabung saraf mulai terlihat. Dari sini, lalu terbentuk batang otak, otak kecil, dan bagian-bagian lainnya. Mulai usia kehamilan delapan minggu, otak dan sel-sel saraf tumbuh dengan cepat dan mencapai puncaknya pada trimester ketiga.

Hal terpenting yang bisa orangtua lakukan untuk si kecil adalah menghabiskan banyak waktu bersama. Ini yang bisa dilakukan orangtua:


1. Tertawa
Dengan mengajak si kecil tertawa, orangtua akan belajar mengenali apa yang menurut dia lucu dan disukainya. Anak juga akan belajar apa yang membuat orangtuanya tertawa.

2. Berbicara

Ini adalah cara terbaik untuk mengasah kemampuan verbalnya.

3. Bernyanyi
Si kecil akan senang jika orangtua bernyanyi untuknya. Cara ini juga efektif untuk menambah perbendaharaan katanya.

4. Memeluk
Bayi membutuhkan pelukan untuk merasakan rasa sayang orangtuanya.

5. Membaca
Dengan membaca, orangtua membantu mengasah kemampuan verbalnya.

6. Bermain
Kegiatan ini dapat menumbuhkan rasa senang dan bahagia bersama antara anak dan orangtuanya.

Fakta atau Mitos?

Ketika lahir, otak bayi sudah berkembang sempurna, sama seperti jantung dan perutnya.
Jawabannya Mitos. Sel-sel otak memang terbentuk sebelum ia lahir tetapi sel-sel itu terkoneksi secara bertahap setelah lahir.

Perkembangan otak anak tergantung pada gen orangtua.

Jawabannya Mitos. Perkembangan otak anak dipengaruhi oleh pengalaman dan interaksi si kecil dengan lingkungannya. Kondisi lingkungan yang baik memiliki peranan lebih besar dalam memengaruhi masa depan anak ketimbang faktor genetik.

DVD bahasa justru dapat mengurangi kosakata anak-anak berusia di bawah tiga tahun.
Jawabannya Fakta. Menurut penulis buku Brain Rules: 12 Principles for Surviving and Thriving at Work, Home and School, Dr. John Medina, kosakata anak akan bertambah jika terus diajak bicara oleh ibunya dari waktu ke waktu. Kata-kata yang orangtua gunakan ketika berbicara dengan si kecil dapat meningkatkan kosakata dan tingkat intelegensinya.

Bayi tidak mengerti perkataan orangtuanya jadi tidak perlu mengajaknya berbincang.
Jawabannya Mitos. Justru dengan mengajaknya bicara sejak dini, orangtua membantu si kecil untuk belajar bicara.

(Baca artikel lainnya di http://www.inspiredkidsmagazine.com)


(ir/ir)

Jumat, 14 Januari 2011

Tertawa Tingkatkan Keberhasilan Bayi Tabung

Selasa, 11/01/2011 17:16 WIB

Vera Farah Bararah - detikHealth
<p>Your browser does not support iframes.</p>


img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Beberapa pasangan yang sedang mencoba untuk hamil kadang mengalami kegagalan saat melakukan proses bayi tabung. Tapi studi mengungkapkan keberhasilan bayi tabung bisa meningkat dengan tertawa.

Studi terbaru menunjukkan memberikan lelucon atau trik sulap lucu dengan segara selama 15 menit setelah perawatan kesuburan bisa meningkatkan hampir 2 kali lipat kemungkinan untuk hamil.

Seorang ahli kesuburan (fertilitas) dan juga seniman pantomim percaya bahwa dosis tertawa bisa membantu menjauhkan dan menghilangkan stres, sehingga membuat kehamilan menjadi lebih mungkin terjadi.

Dalam studi ini, Profesor Shevach Friedler melacak kesuksesan lebih dari 200 perempuan yang menjalani perawatan kesuburan di kliniknya di Israel. Semua peserta melakukan teknik bayi tabung (in vitro fertilisation/IVF) seperti biasa, tapi setelah embrio ditanamkan dalam diri pasien, setengah partisipan disuguhi 'badut medis' selama 15 menit.

Badut medis ini tidak menggunakan hidung merah, melainkan dengan seragam koki dan menceritakan lelucon seputar makanan. Selain itu ia juga melakukan trik sulap yang bisa membuat seseorang tertawa.

Berdasarkan penelitian ini diketahui sebesar 36,4 persen perempuan yang mendapatkan hiburan badut dan sulap berhasil hamil, sedangkan kelompok yang tidak mendapat hiburan hanya sebesar 20,2 persen yang berhasil hamil. Hasil studi ini dilaporkan dalam jurnal American Society for Reproductive Medicine.

"Saya percaya hiburan di samping tempat tidur akan membuat perempuan santai dan terbebas dari rasa stres akibat proses IVF yang melelahkan," ujar Profesor Friedler, seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (11/1/2011).

Kegagalan proses penanaman embrio tergantung pada kemampuan rahim menangkap embrio. Selain itu ada juga beberapa faktor lain yang membuat teknik bayi tabung gagal mencapai kehamilan. Kegagalan ini kadang membuat pasangan harus mengulanginya kembali dan membutuhkan biaya yang lebih besar.


(ver/ir)

Agar si Kecil Tak Takut Jarum Suntik

Rabu, 12/01/2011 15:50 WIB

Vera Farah Bararah - detikHealth
<p>Your browser does not support iframes.</p>


img
(Foto: thinkstock)

Jakarta, Beberapa imunisasi masih menggunakan jarum suntik yang kadang menimbulkan ketakutan atau trauma tersendiri bagi anak. Karenanya orangtua harus membantu si kecil agar tak takut dengan jarum.

Orangtua sebaiknya memberikan penjelasan pada anak secara medis dan juga psikologis. Dalam hal ini anak harus mengerti bahwa suntikan bukan berniat untuk menyakiti anak, tapi untuk membuatnya menjadi lebih sehat.

Pengalaman pertama disuntik tentu sangat tidak menyenangkan karena menimbulkan rasa sakit, kondisi ini membuat anak berpikir bahwa jarum identik dengan rasa sakit sehingga anak-anak akan selalu berpikir bahwa jarum suntik adalah alat yang menyakitkan.

Imunisasi dilakukan untuk membangun sistem kekebalan tubuh anak terhadap suatu penyakit. Hal ini karena saat imunisasi anak akan dimasukkan produk biologis tertentu ke dalam tubuh, sehingga jika anak terserang penyakit tersebut ia sudah mampu untuk melawannya.

Sebagian besar vaksin dalam bentuk suntik karena diharapkan bisa cepat masuk sistem sirkulasi darah, sehingga akan muncul reaksi dengan sel darah putih untuk membuat zat antibodi.

Saat ini sudah ada vaksin kombinasi yang terdiri dari beberapa vaksin, dengan begitu bisa mengurangi jumlah suntikan yang harus diterima oleh anak. Vaksinasi yang diberikan diantaranya BCG untuk penyakit TBC, vaksin polio, hepatitis, campak, DPT dan vaksin lainnya.

Seperti dikutip dari Babycenter, Rabu (12/1/2011) jika bayi masih menyusui, maka ibu bisa langsung menyusui sang bayi setelah disuntik untuk menenangkannya. Menyusui merupakan pereda nyeri yang kuat, karena merupakan kegiatan gabungan antara memeluk, kontak kulit, mengisap dan rasa manis dari ASI yang menjadi obat penawar menyenangkan dari rasa shock dan sakit akibat jarum.

Jika anak sudah besar atau sudah tidak menyusui, cobalah untuk mengalihkan perhatiannya segera setelah disuntik, misalnya dengan mengajaknya berbicara, bernyanyi atau memberinya mainan.

Untuk mencegah trauma jarum suntik pada anak, sebaiknya orangtua tidak perlu menakut-nakuti atau terus menerus membicarakan tentang imunisasi yang bisa membuat anak memikirkan hal-hal menyeramkan.

Orangtua bisa memberikan ketenangan menjelang disuntik dengan cara membuatnya merasa nyaman, senang, memegang tangannya dan mengajaknya berbicara tentang berbagai hal. Setelah anak disuntik berilah ia pujian bahwa ia telah menjadi anak yang pemberani dan ia sudah menjadi anak yang sehat. Karenanya orangtua memegang peranan penting untuk membantu si kecil agar tidak takut atau trauma dengan jarum suntik
(ver/ir)

Kapan si Kecil Siap Lepas dari Popok?

Kamis, 13/01/2011 12:46 WIB

Vera Farah Bararah - detikHealth
<p>Your browser does not support iframes.</p>


img
(Foto: thinkstock)
 
Jakarta, Sebagian besar anak yang belum bisa berlatih buang air kecil atau besar di toilet masih mengandalkan popok. Kapan si kecil bisa mulai lepas atau tidak menggunakan popok lagi?

Popok sekali pakai yang digunakan oleh balita memang bisa mempermudah hidup orangtua atau pengasuhnya karena membuatnya tidak repot harus selalu mencuci celana dan membuat rumahnya tetap bersih. Tapi kondisi ini sebaiknya tidak terus menerus terjadi karena tidak akan membantu balita membangun kesadarannya terhadap kebutuhan menggunakan toilet.

Seperti dikutip dari buku Your Baby Month by Month karangan Su Laurent dan Peter Reader yang diterbitkan Esensi, Kamis (13/1/2011) perkembangan balita untuk BAK (buang air kecil) atau BAB (buang air besar) di kamar mandi beragam karenanya tidak ada angka pasti mengenai kapan usia yang tepat.

Tapi orangtua bisa mulai melatihnya saat anak berusia 18-30 bulan, dan sebagian besar anak sudah lepas popoknya saat berusia 3 tahun.

Untuk mengetahui apakah si kecil sudah siap atau belum untuk melepas popok, lihatlah beberapa tanda yang menunjukkan kesiapan anak yaitu:
  1. Anak memberitahu orangtua atau pengasuhnya jika popok yang digunakan basah atau kotor.
  2. Anak menunjukkan ketertarikan ketika menggunakan kamar mandi.
  3. Anak memiliki kesadaran untuk buang air kecil atau buang air besar.

Jika anak sudah menunjukkan tanda tersebut, maka peran orangtua adalah memberikan dorongan psikologis pada anak dan jangan membuat anak merasa bersalah jika anak gagal mengontrol kandung kemih dan sistem pelepasannya. Karena rasa bersalah tersebut bisa membuat perkembangan proses ini semakin lama, untuk itu berilah si kecil waktu belajar.

Untuk awalnya orangtua bisa memulai dari pagi hingga sore hari, latihlah anak untuk mengucapkan atau memberitahu orangtuanya jika ingin pipis atau sakit perut. Pada tahap-tahap awal pembelajaran, sebaiknya tetap gunakan popok celana jika ingin bepergian dan tidur sampai balita benar-benar bisa mengontrol pipis dan BAB-nya.

Dalam proses melepaskan popok, ada beberapa hal yang sebaiknya tidak dilakukan orangtua pada balitanya yaitu:
  1. Memarahi balita karena ia mengompol atau pipis sembarangan dan tidak memberitahu orangtuanya.
  2. Melepaskan popok saat malam hari di awal-awal proses pembelajaran, karena banyak balita yang belum siap untuk berhenti menggunakan popok sewaktu tidur.
  3. Memaksa anak untuk langsung bisa pipis atau BAK di kamar mandi, karena proses ini butuh pembelajaran dan orangtua harus meluangkan waktu untuk mengajarinya.


(ver/ir)

Kecil-kecil Jago Mengatur Uang

Jumat, 14/01/2011 08:55 WIB

InspiredKids - detikHealth
<p>Your browser does not support iframes.</p>


img
(Foto: thinkstock)

Jakarta, Meskipun tingkat pemahamannya masih sederhana, anak-anak bisa lho, terampil mengatur uang jika dibiasakan oleh orangtuanya. Kuncinya adalah mengajarkan sedini mungkin, berikan pengetahuan yang sederhana, dan berikan contoh nyata.

Sebuah situs yang banyak mengupas soal manajemen keuangan bagi anak, TheMint.org menyebutkan, tujuh dari sepuluh anak usia 17 tahun mengakui bahwa orangtualah yang paling memengaruhi mereka dalam mengatur keuangan.

Perencana keuangan Paul Lermitte dalam bukunya 'Agar Anak Pandai Mengelola Uang', mengatakan, ketika orangtua mengajari anak-anaknya menabung, cara menggunakan uang, dan berinvestasi dengan penuh tanggung jawab, secara tidak langsung orangtua telah menyiapkan mereka untuk menjalani kehidupan yang sukses dan produktif di kemudian hari.

Namun, pastikan orangtua mengingat hal ini:
  1. Anak merupakan individu yang unik. Karena itu, sebuah metode belajar belum tentu bisa berhasil diterapkan pada semua anak.
  2. Orangtua adalah pemegang kendali. Karena itu, menurut Janet Bodnar, pengarang 'Kiplinger Dollars & Sense For Kids' orangtua jangan terjebak dalam menyayangi anak-anaknya lewat materi. "Dalam sebuah keluarga harus ada orang dewasanya, dan seharusnya orangtualah yang memegang kendali tersebut," ujarnya.

Kunci Anak Pandai Mengatur Uang

Kunci utama dalam membuat anak termotivasi untuk mengatur keuangan adalah membuat uang menjadi hal penting dalam hidup. Tidak perlu banyak bernostalgia tentang cara orangtua mengatur keuangan saat masih remaja. Langsung saja pada intinya, uang.

Berikan contoh nyata dalam hidup dan jadilah contoh bagi mereka dalam menyikapi masalah keuangan.
1. Ajarkan anak perbedaan antara kebutuhan dan keinginan.
Jelaskan pada mereka bahwa beberapa benda harganya mahal sekali dan untuk membelinya kita harus menabung terlebih dahulu. Hal ini akan membuat mereka bisa menahan diri dari keinginan berbelanja.

2. Biarkan mereka membuat keputusan soal uang sedini mungkin.
Ajarkan pada mereka cara mengatur uang saku, namun jangan paksa mereka. Berikan pemahaman bahwa dengan menabung mereka bisa mendapatkan barang berharga di kemudian hari.

3. Berikan motivasi untuk menabung.
Beritahukan pada anak bahwa dengan menabung di bank, mereka akan bisa mendapatkan keuntungan lebih dari sekedar menabung. Apalagi, jika jenis tabungan yang dipilih khusus untuk anak-anak, yang pastinya memberikan banyak hadiah atau tawaran menarik lainnya. Biarkan si sulung 'bersaing' dalam hal ini dengan adik-adiknya, sehingga mereka akan lebih termotivasi mencari cara untuk menambah penghasilannya untuk ditabung selain uang saku, misalnya membantu ibu atau ayah.

4. Pastikan anak-anak mengetahui hubungan antara bekerja, gaji dan pajak.
Biarkan anak-anak mengetahui berapa jam yang orangtuanya habiskan untuk bekerja sama dengan jumlah uang yang bisa dibelanjakan. Jangan lupa, berikan pemahaman pada mereka bahwa negara berhak mengambil bagian dari gaji sebagai pajak.

5. Jangan pernah lelah mengajarkan anak mengenai sistem kredit.

Berikan pemahaman pada anak mengenai kartu kredit dan bagaimana cara menggunakannya. Satu hal yang tidak diajarkan adalah pentingnya membayar tagihan setiap bulannya. Sebelum anak memiliki kartu kredit, lihat dulu bagaimana pengaturan uangnya dengan kartu debet.

6. Jika usianya cukup, motivasi mereka untuk mendapatkan pengalaman bekerja.
Biarkan anak merasakan rasanya bekerja, menerima gaji, dan mendapatkan potongan pajak sehingga mereka bisa menghargai uang.

7. Ajarkan anak mengenai investasi.
Dalam hal ini, pengalaman nyata adalah guru terbaik. Orangtua dapat menjadi contoh yang paling nyata bagi mereka. Dari pengalaman ini, anak bisa belajar mengenai proses, keuntungan, kerugian, faktor resiko, dan lain sebagainya.

(Baca artikel lainnya di http://www.inspiredkidsmagazine.com)
(ir/ir)

Ma, Kok Burungku Kecil?

Jumat, 14/01/2011 13:16 WIB

Vera Farah Bararah - detikHealth
<p>Your browser does not support iframes.</p>


img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Sony yang berusia 10 tahun merasa sakit hati ketika temannya Efdal berteriak di kamar bilas usai berenang, 'Hai teman-teman lihat, Sony seperti banci, 'burung'nya kecil sekali'. Bagai tersiram air panas, wajah Sony menjadi merah dan malu sekali, langsung ia berlari menuju kamar ganti lalu menangis.

Sejak peristiwa itu Sony menjadi minder dan sakit hati jika bertemu dengan teman-temannya, apalagi ia harus mengikuti pelajaran renang. Sony tidak berani bercerita pada orangtuanya karena takut dimarahi kalau menanyakan tentang masalah alat kelamin. Padahal jika hal ini dibiarkan, Sony akan menjadi tertekan dan dapat menimbulkan depresi yang berakhir pada gangguan perilaku.

Namun setelah dibujuk mamanya, Sony mau menceritakan masalahnya. 'Aku malu ma, Efdal sering mengejek aku banci karena burungku kecil' cerita Sony. Orangtuanya langsung membawanya ke dokter endokrin untuk melakukan pemeriksaan, ternyata hasil pengukuran penis Sony sangat kecil dibandingkan dengan anak seusianya dan Sony mengalami mikropenis.

Cerita di atas adalah cerita yang benar-benar terjadi yang kemudian ditulis dr Aditya Suryansyah Semendawai, SpA dalam buku yang berjudul 'Panik Saat Puber?, Say No!!!' terbitan Dian Rakyat.

Seperti dikutip Jumat (14/1/2011) dalam bukunya dr Aditya menuturkan masalah 'burung' yang kecil dalam bahasa kedokteran disebut dengan mikropenis. Meskipun tidak ada data ukuran penis berhubungan dengan keturunan, tapi ukuran yang normal merupakan suatu faktor yang sangat penting.

Selain itu diketahui bahwa Sony termasuk anak yang bongsor. Pada anak gemuk lemak di perut relatif lebih banyak dari anak yang lain. Kondisi ini menyebabkan penis terpendam oleh lemak di sekitar pangkal penis sehingga penis terlihat lebih kecil karena 'menghilang' di dalam perut.

Penanganan untuk mikropenis ini sendiri harus disesuaikan dengan masalah anak. Terlebih dahulu ditentukan penyebab mikropenisnya dan apakah ada kelainan lain atau tidak, dan pembesaran penis ini juga tidak boleh berlebihan karena harus dipikirkan efek samping.

Apa yang harus dilakukan jika kelamin anak kecil?

Dalam konsultasi kesehatan detikHealth, dr Aditya Suryansyah mengatakan langkah awal bila curiga mikropenis adalah tidurkan anak pada posisi terlentang, dalam keadaan rileks (santai dan tidak kaku). Bila dalam pengukuran terdapat ereksi (penis membesar) pemeriksaan harus diulang. Pengukuran dilakukan dari pangkal penis sampai ujung penis dengan penis ditarik. Bila salah mengukur akan terkesan banyaknya anak yang terlihat mikropenis.

Bagaimana pengobatannya?

Untuk terapi mikropenis terbaik dilakukan sebelum anak menginjak usia pubertas. Bila dilakukan di usia remaja dan dewasa, maka hasilnya akan kurang bagus. Obat yang diberikan mengandung hormon testosteron.

Beberapa bulan kemudian setelah mendapat terapi Sony tidak lagi takut ikut berenang dan bisa tersenyum bangga karena ukuran penisnya menjadi 2 kali lebih panjang. Tapi masih ada PR untuk Sony dan keluarganya yaitu menunurunkan berat badan agar tidak terlalu gemuk
(ver/ir)

Gejala Terserang Sindrom Makan Malam

Jumat, 14/01/2011 18:14 WIB

Merry Wahyuningsih - detikHealth
<p>Your browser does not support iframes.</p>


img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Sebagian orang sangat berhati-hati atau bahkan menghindari makan malam. Tapi orang yang menderita Night Eating Syndrome (NES atau sindrom makan malam) justru makan tengah malam atau menjelang pagi hingga terkadang menyebabkan gangguan tidur.

Sindrom makan malam merupakan salah satu gangguan mental yang membuat orang hanya mau makan di malam hari setelah lewat jam makan malam dan tidak makan lagi saat sarapan atau pun makan siang.

Sindrom ini biasanya terjadi pada orang yang sedang menjalani program diet ketat sehingga tidak makan selama sarapan dan makan siang, serta membebankan semua kebutuhan perut saat makan malam.

Orang yang mengalami sindrom makan malam sering disebabkan karena depresi dan kecemasan, diet berkepanjangan atau kebosanan yang berlebihan.

Dilansir Webmd, Jumat (14/1/2011), orang dengan sindrom makan malam sering mengalami gejala seperti berikut:
  1. Sedikit atau tidak nafsu makan sama sekali saat sarapan dan makan siang
  2. Makan lebih banyak setelah waktu makan malam
  3. Makan lebih dari separuh asupan sehari pada waktu makan malam
  4. Terbangun di tengah malam untuk makan dalam porsi banyak dan kembali tidur lagi

Sindrom ini bisa membahayakan kesehatan karena orang dengan sindrom makan malam akan mengalami penurunan hormon melatonin (hormon tidur) dan leptin (hormon yang mengontrol nafsu makan). Pada waktu yang sama, hormon kortisol (hormon stres) justru naik.

Yang tampak secara nyata, orang dengan sindrom ini akan kekurangan waktu tidur, yang menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti obesitas, diabetes, jantung dan penyakit serius lainnya.

Bagaimana mengatasinya?

Karena orang dengan sindrom makan malam mengalami penurunan hormon melatonin dan leptin, maka terapi hormon dapat membantunya dengan mempromosikan tidur dan mengurangi rasa lapar di malam hari.

Menambah asupan karbohidrat juga dapat membantu karena dapat merangsang produksi insulin yang meningkatkan kadar triptofan dalam otak, yaitu substansi yang berasal serotonin.

Selain membantu orang untuk tidur, serotonin juga membuat orang merasa bahagia dan senang sehingga bisa mengatasi depresi.

(mer/ir)